Jumat, 17 Juni 2011

Protap Operasi Peringatan Dini &Kedaruratan Kebencanaan Sumatera Barat



Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Provinsi Sumatera Barat akan mengadakan kegiatan Lokakarya dan Gladi Posko yang rencana dilaksanakan pada tanggal 22 sampai dengan 24 Juni 2011 di Pangeran Beach Hotel Padang yang akan dihadiri dari berbagai kalangan intansi/lembaga terkait bidang kebencanaa Sumatera Barat, adapun materi yang akan diberikan/ disosialisasikan antara lain adalah tentang Standar Operating Prosedur (SOP) Sistim Operasi Peringatan Dini dan Kedaruratan bencana alam gempa bumi dan Tsunami Sumatera Barat.

Berikut kami lampirkan Protap yang akan dijadikan sebagai bahan paparan nantinya Lihat Disini .... berikut TOR Pelaksanaan Kegiatan Gladi Posko ini >>>>> Lihat Disini


Rabu, 01 Juni 2011

Patahan Sumatera berada di garis sungai Suliti

Gempa 4,5 skala Richter (SR) yang terjadi Selasa (31/5) kemarin memberi indikasi potensi gempa 7,2 SR masih tersimpan di Segmen Suliti, patahan Sumatra, Solok Selatan, Sumatra Barat. Hal ini didukung riset pakar Gempa Pulit Geoteknologi-LIPI Danny Hilman Natawidjaja sejak 1994 di segmen tersebut.

"Semua hasil riset tersebut telah dikumpulkan oleh Tim 9 dalam bentuk pemetaan bencana," jelas Koordinator Pusat Pengendali Operasi Penanganan Bencana (Pusdalops PB) Sumatra Barat Ade Edwars, Rabu (1/5).

Menurut Ir. Ade Edward, setiap tahun segmen tersebut mengalami pergeseran 23 milimeter. "Hal ini bertumpuk menjadi energi gempa. Tapi, bisa saja keluar berangsur-angsur," tuturnya.

Segmen Suliti sepanjang 60 kilometer tersebut membujur dari Gunung Talang hingga Gunung Kerinci. "Segmen itu bertepatan dengan kiri kanan jalan Alahan Panjang-Muara Labuah. Segmen itu membentuk Sungai Suliti," ujarnya.

Pak Ade menambahkan, gempa besar pernah terjadi di Segmen Suliti tahun 1943. "Gempa itu menimbulkan kerusakan yang sangat parah," kata Pak Ade.

Saat ini, di atas Segmen Suliti telah berdiri permukiman yang sangat ramai. "Sangat riskan sekali karena pemukiman tersebut pada umumnya rumah permanen,"

Ia menjelaskan, gempa darat jauh merusak dibanding gempa laut. Gempa darat lebih dangkal dibanding gempa laut. "Tak hanya goncangan, tapi juga retakannya sangat berdampak besar," ungkapnya.

Untuk itu, Ir. Ade Edward sebagai Kabid Kedaruratan & Logistik BPBD Provinsi Sumatera Barat, menghimbau pemerintah setempat melakukan mitigasi sesegera mungkin. "Pemerintah Kabupaten Solok Selatan hendaknya segera menyusun rencana mitigasi itu. Sosialisasi, regulasi dan penataan ruang kembali mungkin jawabannya,"