Powered By Blogger

Jumat, 02 Agustus 2013

KESIAPSIAGAAN CUACA EKSTRIM JELANG MUDIK DAN HARI RAYA IDUL FITRI

Tidak terasa Bulan Ramadhan sudah mendekati penghujungnya, tradisi mudik pada akhir-akhir Ramadhan dalam beberapa hari ke depan dipastikan akan meningkat terutama pada H-6 dan H+3. Arus mudik yang menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan peribadi akan memadati jalur-jalur mudik baik lintas provinsi maupun lintas Kabupaten-Kota di seluruh wilayah Indonesia tidak terkecuali di Sumatera Barat.

Peningkatan arus mudik dipastikan akan meningkatkan kepadatan di jalan raya, sehingga ditingkatkan kehati-hatian dan kewaspadaan. Selain itu perlu juga ditingkatkan kewaspadaan dengan memperhatikan faktor cuaca. Kepadatan di jalan raya yang diikuti dengan  faktor cuaca yang tidak mendukung, dapat meningkatkan risiko keamanan dan keselamatan di jalan raya baik selama mudik maupun pada masa masa libur hari Raya Idul Fitri. 


Berdasarkan info cuaca yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG ) mealalui situs www.bmkg.co.id, Prospek curah hujan dalam bulan Agustus 2013 untuk wilayah Sumatera Barat berpotensi Curah Hujan Menengah 151 -300 mm, artinya pada Bulan Agustus ini akan sering terjadi hujan. Pada rentang 2 s/d 8 Agustus 2013, Intensitas hujan umumnya diperkirakan berpotensi hujan ringan pada pagi dan siang hari namun berpotensi hujan sedang hingga lebat pada malam hari. Kesiapsiagaan cuaca ekstrim  terkait dengan banjir, longsor dan angin kencang yang dapat disertai angin puting beliung dan pohon tumbang, terutama sekali perlu ditingkatkan di wilayah Sumatera Barat bagian Barat dan kepulauan.


Berikut adalah beberapa jalur mudik yang patut diwaspadai rawan longsor dan pohon tumbang:


  1. Jalur Kab. Agam -  Kab. Padang Pariaman : Lembah Anai, Malalak
  2. Jalur Kab Agam – Kab. Pasaman dan Kab. Pasaman :Palupuh – Bonjol, Matur – Palembayan – Tigo Nagari, Simpang Alahan Mati – Malampah, dan Lubuk Sikaping – Panti.
  3. Jalur Padang – Kab. Solok :Jalan Provinsi sekitar Panorama II (Sitinjau Laut) - Air Sirah.
  4. Jalur Kab. Solok – Kab. Sijunjung: Sungai Lasi Jalur Kab. 50 Kota – Prov Riau : Kelok 9 – Hulu Air, Tanjung Balit. 
  5. Jalur Kab. Solok – Kab. Solok Selatan : Surian – Air Dingin
  6.  Kota Padang – Kab. Pesisir Selatan : Bungus Teluk Kabung 
  7.  Kab. Solok – Kab. Sijunjung : Sungai Lasi
  8.  Kab. Sijunjung – Kab Dharmasraya : Tanjung Gadang, Sijunjung, dan Muara Takung, Dharmasraya.




Peta berikut dapat menggambarkan titik-titik lokasi rawan bencana yang berkaitan dengan cuaca ektrim, yaitu banjir, longsor dan gelombang tinggi.




Sehubungan dengan hal di atas maka kami menghimbau bahwa dalam meningkatkan kesiapsiagaan perlu diperhatikan kesiapan fisik kendaraan dan stamina dalam menjalani mudik hari raya, jangan ragu-ragu mempersiapan perbekalan selama perjalan, perhatikan faktor cuaca, membawa alat penerangan dan baterai cadangan akan sangat membantu ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan.

Rabu, 10 Juli 2013

PETA BAHAYA GEMPA BUMI ZONA PATAHAN SUMATERA, PROVINSI SUMATERA BARAT

A. Zonasi Wilayah Ancaman Gempa

Sesar/Patahan Sumatera membentang sepanjang 1.900 km (dari Banda Aceh hingga Teluk Semangko di Selatan Lampung), membentang paralel dengan palung/zona subduksi sebagai pengaruh dari konvergensi Lempeng Eurasia dengan Lempeng Indo-Australia (gambar 1). D. Hilman dan K. Sieh, dalam Neotectonic of The Sumatran Fault, Indonesia, 2000, membagi Patahan Sumatra ini menjadi 3 wilayah, yaitu wilayah Utara, Tengah dan Selatan, namun secara keseluruhan, berdasarkan pengamatan pada peta topografi dan foto udara, dibagi menjadi 19 segmen (gambar 2). 


Gambar 1. Tatanan tektonik wilayah Pulau Sumatera-Samudera Hindia
.

Gambar 2. Pembagian segmen Patahan Sumatera (D. Hilman dan K. Sieh, 2000)

Dari 19 Segmen Patahan Sumatera 7 diantaranya terdapat di wilayah Provinsi Sumatera Barat dan akan berdampak langsung terhadap masyarakat yang berada pada zona-zona rentan. Adapun ketujuh segmen tersebut adalah segmen Siulak (2.25°S ~ 1.7°S), segmen Suliti (1.75°S ~ 1.0°S), segmen Sumani (1.0°S ~ 0.5°S), segmen Sianok (0.7°S ~ 0.1°N), segmen Sumpur (0.1°N ~ 0.3°N), Segmen Barumun (0.3°N ~ 1.2°N) dan Angkola sedangkan potensi gempa masing-masing segmen tersebut dapat dilihat pada table 1. 

Tabel 1.   Data dan Parameter sumber gempa pada segmen-segmen  Sesar Sumatera (Tim revisi Peta Gempa Indonesia, 2010).




1. Segmen Angkola
Ujung utara segmen ini bermula pada lembag Batang Toru, menyisir lembah Sungai Batang Angkola dan Batang Gadis di wilayah Sumatera Utara. Sementara ujung Selaatnnya berada di wilayah Sumatera Barat di dekat Lembah Batang Pasaman. Panjang segmen 160 km dengan Potensi kekuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 7,6.
Kerusakan serius dilaporkan pernah terjadi pada tahun 1892 disepanjang lembah Batang Gadis dan Sungai Angkola diantara Malintang dan Lubuk Raya Volcanoes (Visser, 1922 dalam D. Hilman dan K Sieh, 2000).

2. Segmen Barumun
Ujung Utara Berada di Wilayah Sosopan Julu, Sumatera Utara, menyusuri Lembah Sungai Barumun. Bagian Selatan Segmen ini berada di Wilayah Provinsi Sumatera Barat. Panjang segmen 125 km dengan potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 7,6.
Lembah Aliran Batang Asik dan hamparan lembah (depresi) Batang Sumpur di daerah Panti dan Sitompa hingga Sunpadang merupakan bukti dari adanya  pergeseran vertikal berupa amblasan pada bagian segmen ini. 

3. Segmen Sumpur
Segmen Sumpur di bagian Utara burujung pada sisi Selatan Depresi Sumpur, di Selatan Panti, kemudian menyisir Lembah Batang Sumpur ke Tenggara, Salabawan, hingga Bonjol, menyusuri S. Silasung. Panjang segmen 35 km dengan potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 6,9.

4. Segmen Sianok
Segmen ini memanjang dari sisi Timur Luat D. Singkarak, melewati sisi Barat Daya G. Marapi hingga Ngarai Sianok. Panjang segmen 90 km dengan potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 7,3.
Gempa terbesar pernah tercatat pada segmen ini yaitu pada 4 Agustus 1926 dengan pusat hancuran antara Bukit Tinggi dan D. Singkarak. Data terbaru mencatat bahwa  6 Maret 2007 (M 6,4 dan 6,3)  juga terjadi gempa merusak pada segmen ini bersama sama dengan segmen Sumani dan mengakibatkan banyak kerusakan di daerah Batu Sangkar dan Solok.

5. Segmen Sumani
Ujung Utara segmen ini berada di sisi Utara D. Singkarak, menyirisi sisi Barat Daya danau tersebut melintasi daerah Kota Solok, Sumani, Selayo dan berakhir di Utara D. Diateh Tenggara Gunung Talang. Panjang segmen 90 km dengan potensi 65 km kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 7,2.
Gempa merusak tercatat terjadi pada 9 Juni 1943, M 7.4,  di bawah D. Singkarak dan menghasilkan pergeseran horizontal sejauh 1 m 4 (D. Hilaman Natawijaya dkk. 1995), dan gempa pada 6 Maret 2007 juga telah menyebabkan banyak kerusakan di sepanjang segmen ini dari Sumani hingga Selayo.

6. Segmen Suliti
Ujung Utara segmen berada pada D. Diatas dan D. Dibawah dengan lebar zona 4 km pada wilayah tersebut. Patahan Sumatera pada segmen ini menelusuri lembah S. Suliti ke Tenggara hingga anak-anak Sungai Liki di Barat Laut G. Kerinci, dengan panjang total 90 km. Potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 7,4.
Gempa merusak pada segmen ini pernah terjadi pada 9 Juni 1943, M 7,1 (Pacheco dan Sykes, 1992). Menyebabkan kerusakan parah pada bagian Utara Segmen hingga Muarolabuh.

7. Segmen Siulak
Ujung Selatan Segmen ini berada di wilayah Jambi menyusuri lembah di Barat Daya hingga Barat Laut G. Kerinci, overlap dengan segmen Suliti di wilayah Solok Selatan dengan panjang total 70 km. Potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 7,2.
Gempa merusak pernah terjadi pada segmen ini pada 9 Juni 1909 dan  diyakini berkekuatan 7,7 (Abe, 1981) dan menyebabkan kerusakan parah hampir di sepanjang segmen. Kerusakan pada gempa 6 Oktober 1995, M 7,0 diberitakan terjadi pada area yang cukup luas di lembah Barat Laut Danau Kerinci (Kompas 7 Oktober 1995).



B. Risiko dan Upaya Kesiapsiagaan

Gempa-gempa yang berafiliasi dengan zona patahan Sumatera merupakan gempa-gempa berkekuatan sedang hingga kuat dengan potensi kedalaman dangkal, kurang dari 20 km. kuat gempa dengan kedalaman yang dangkal dapat mengakibatkan kerusakan yang hebat dan sangat memungkinkan terjadinya bencana ikutan berupa tanah longsor, hal ini akan menambah risiko kerugian yang dapat diakibatkan oleh gempabumi pada wilayah tersebut.

Selain beberapa catatan bencana gempabumi pada uraian Segmen Patahan Sumatera Diatas, terdapat beberapa pengalaman gempa terbaru yang terjadi di pada Sistem Patahan Sumatera baru-baru ini, yaitu :

  1. Gempa 6,2 skala richter (SR) di Aceh Selasa 2 Juli 2013 yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah dan Kab. Bener Meriah berdampak cukup luas pada masyarakat dimana berdasarkan laporan BNPB  Minggu, 7 Juni 2013  tercatat 40 orang meninggal dunia, 63 orang luka berat, 2.362 luka ringan, dan pengungsi mencapai 22.135 orang, Rumah rusak sebanyak 15.919 unit sedangkan 623. 
  2.  Gempa 6,4 dan 6,3 SR 6 Maret 2007 melanda Kabupaten Solok, Kab. Tanah Datar dan Kota Padang Panjang. Menyebabkan 52 orang meninggal dunia, dan sedikitnya 14.000 unit rumah rusak.

Masih tingginya tingkat kerusakan dan korban yang ditimbulkan oleh peristiwa gempabumi di Daratan Sumatera, terutama di daerah daerah yang berdekatan langsung dengan pusat-pusat episentrum, zona bahaya tinggi, menunjukkan bahwa masih lemahnya upaya mitigasi yang telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat di daerah-daerah tersebut. Berbeda dengan upaya mitigasi bencana tsunami yang telah memiliki program mitigasi yang terencana dan terintegrasi dalam “Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami.”,  Program Mitigasi dan Kesiapsiagaan dalam mengantisipasi bencana gempa bumi darat masih sangat minim dan belum memiliki road map yang terencana dan sistematis.

Perlu jadi perhatian kita semua bahwa wilayah Sumatera Barat yang secara umum rawan terhadap bencana gempabumi, terdapat 12 Kabupaten/Kota dengan total 72 Kecamatan dan 408 Nagari dengan hampir 1.705.878 jiwa (berdasarkan sensus Penduduk 2010) berada pada zona ancaman atau zona bahaya tinggi. Jumlah jiwa terpapar tersebut akan semakin rentan ketika berada di daerah yang bertopografi terjal atau perbukitan  jiwa terpapar ancaman Gempa darat dangkal. Disamping itu hampir seluruh pemukiman di kecamatan-kecamatan yang berada di tengah-tengah Bukit Berisan berada di atas jalur Patahan Sumatera yang cenderung membentuk lembah-lembah dan dataran, artinya bahwa daerah-daerah tersebut berada pada zona ancaman/bahaya tinggi. Dengan potensi magnitude dan kedalaman yang dangkal, gempa di sekitar zona patahan sumatera juga berpotensi menimbulkan bencana ikutan yaitu tanah longsor terutama pada daerah perbukitan bertopografi terjal.

Berikut adalah beberapa Ibu kota  kabupaten, kecamatan atau pusat-pusat pemerintahan dan perekonomian yang berada di Jalu/Zona Patahan Sumatera:
  1. Kab. Pasaman : Baharu, Kota Napan, Sitomba, Tapus, Petok, Selibawan, Lubuk Sikaping, Bonjol,, Padang Sarai, 
  2. Kab. Agam : Palembayan, Kota Tinggi, Tarok, Koto Tuo
  3. Kota Bukit Tinggi --> Ngarai Sianok
  4. Kota Padang Panjang 
  5. Tanah Datar : Koto Baru, Malalo, Batu Taba
  6. Kab. Solok : Singkarak, Sumani, Danau Kembar, Alahan Panjang, Galagah, Bukik Gadang, Surian
  7. Kota Solok
  8. Kab. Solok Selatan : Pastalang, Muarolabuh, Alahan Badia, Liki

Tabel 1. Daftar Kabupaten pada zona ancaman/bahaya gempabumi tinggi pada Zona Patahan Sumatera. Wilayah Administrasi dan jumlah penduduk mengacu pada Sensus Penduduk 2010, BPS.
Patahan Sumatera.


Terdapat salah satu alinea dalam Deklarasi Padang 2005, dalam Konferensi Internasional Ancaman Gempabumi Sumatera yang perlu jadi perhatian, ”Saat ini, semua perhatian terpusat pada  potensi bahaya guncaang gempabumi dan tsunami  dari pecahnya megathrust di masa yang akan datang. Namun demikian, adalah penting bahwa masyarakat di Sumatera jangan mengabaikan risiko  yang ditimbulkan oleh patahan besar lainnya yaitu, Sesar Sumatera, yang melintas sepanjang jalur pegunungan (Bukit Barisan) mulai dari Teluk Semangko (Lampung) sampai ke Banda Aceh.Sebagai contoh, Banda Aceh akan lebih memiliki resiko terhadap pergerakan Sesar Sumatera  yang berada di daratan dibanding resiko dari  gempabumi  dan  tsunami disebabkan oleh megathrust yang berada di dasar laut. Dalam kasus tertentu ini, apakah akan mungkin terjadi gerakan tanah yang   diakibatkan oleh pecahnya/bergeraknya Patahan Sumatera dan seperti apakah kemungkinan peristiwa yang akan terjadi ? Juga, lokasi-lokasi yang spesifik dari Patahan Sumatera harus diketahui sedemikian rupa sehingga kegiatan pembangunan yang baru tidak akan ditempatkan pada jalur Patahan Sumatera tersebut.”

Harus ada tekanan publik agar kepala daerah yang daerahnya rawan gempa agar peduli terhadap perlunya bangunan aman gempa dan kawasan pemukiman aman longsor akibat gempa. Oleh karena itu perlua danya perubahan paradigma pemerintah daerah dalam penerpan pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB),  Selagi pemko/pemkab menganggap IMB sebagai objek PAD, sulit mengharapkan IMB yang sejatinya sebagai instrumen pembinaan, pangawasan, pengendalian bangunan.

Upaya peningkatan mitigasi dan pengurangan risiko bencana terkait gempabumi dan longsor di kawasan daratan Sumatera merupakan kebutuhan mendesak sehinga perlu dikerahkan segala upaya dan sumberdaya yang ada. Dalam program jangka panjang perlu dirancang dan diterapkan Road Map Rencana Aksi Mitigasi Ancaman Gempa Patahan Sumatera di seluruh wilayah Provinsi Sumatera Barat  dan Sumatera umumnya, meliputi beberapa program sebagai berikut:
  1. Penyusuna Skenario Daruruat Bencana dan Rencana Kontinjensi.
  2. Sosialisasi dalam rangka peningkatan public awareness dan penentuan kebijakan.
  3. Pelatihan, pendidikan, simulasi bagi aparat dan masyarakat.
  4. Review penataan ruang kawasan pemukiman dalam rangka mewujudkan kawasan yang aman terhadap gempabumi dan longsor.
  5. Relokasi pemukiman rawan longsor.
  6. perkuatan bangunan dengan teknologi tepat guna agar aman terhadap gempa.
  7. Perkuatan kelembagaan Nagari Tangguh Bencana dengan memperdayakan potensi kearifan lokal yang ada.
  8. Perkuatan Sumberdaya manusia dan peralatan deteksi dini, monitoring dan kendali operasi penanggulangan bencana.
  9. persiapan peralatan, bahan dan personel untuk penanganan darurat bencana
  10. Penyebaran rambu-rambu peringatan bahaya gempabumi dan longsor, leaftlet propaganda dan promosi siaga gempa dan longsor.
Kedepan sangat diharapkan keterlibatan semua pihak pemangku kepentingan, baik pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam upaya-upaya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana dalam rangka pengurangan risiko baik korban jiwa, kerugian materil, infrasutruktur maupun sektor-sektor lain yang mungkin akan mengganggu stabilitas perekonomian hingga politik dan kehidupan masyarakat secara umum.


(Tim BPBD Prov. Sumatera Barat, Juni 2013)

Pustaka:
  1. K. Sieh dan D. Hilman Natawijaya, Neotectonic of Sumatran Fault, 2000.
  2. Peta Bahaya Gempa Bumi Provinsi Sumatera Barat, UNDP, SC-DRR, Pemprov. Sumatera Barat, PT Waindo Specterra, 2011
  3. Sari dari berbagai sumber lain


Directing: Ir Ade Edward
Editting and  Map Layout : Yusra Agustin ST






Kamis, 13 Juni 2013

TANGGAPAN KEJADIAN GEMPA BUMI 12 JUNI 2013

Padang (13/06), Kejadian Gempa Bumi yang terjadi pada tanggal 12 Juni 2013 malam hari pukul 21.25.06 wib sempat membuat heboh masyarakat Sumatera Barat dan khususnya wilayah pantai pesisir barat Sumatera Barat karena pada hari-hari sebelumnya mereka juga merasakan goncangan gempa di seputaran wilayah yang sama yaitu pada tanggal 26 Mei 2013 pukul 18.20.02 wib. 

lokasi Gempa Mei dan Juni 2013

Terkait hal tersebut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Badan Geologi pada hari ini telah menyampaikan laporan tanggapan terjadinya gempa bumi di Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat kepada Gubernur Sumatera Barat serta BPBD Provinsi Sumatera Barat berdasarkan informasi yang diperoleh dari BMKG dan USGS serta data lainnya  :
  1.  Gempa Bumi terjadi pada hari Rabu, tanggal 12 Juni 2013 pukul 21.25.06 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,58 LS dan 100,52 BT, dengan magnituda 5,0 SR pada kedalaman 28 km, berjarak 29 km Baratdaya Pesisir Selatan - Sumatera Barat. Sedang menurut USGS pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,622 LS dan 100,580 BT dengan magnituda 4,8 Mw pada kedalaman 71 km, berjarak 29 km Selatan Painan.
  2. Kondisi Geologi daerah terkena gempa bumi: Pesisir Selatan dan sekitarnya tersusun oleh aluvium dan batuan vulkanik berumur Kuarter serta batuan sedimen berumur Tersier. Aluvium dan batuan vulkanik Kuarter mempunyai sifat lepas, urai, belum terkompaksi dengan baik dan bersifat memperkuat efek goncangannya gempa bumi.
  3. Penyebab gempa bumi :  Berdasarkan data posisi dan kedalaman pusat gempa bumi, diperkirakan gempa bumi ini dengan aktivitas zona subduksi di sebelah barat Pulau Sumatera.
  4. Dampak gempa bumi :  Berdasarkan informasi dari Pos Pengamatan G. Talang di Solok, gempa bumi ini terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 50 mm dan durasi 220 detik, gempa bumi ini dirasakan dengan intensitas II MMI. Sedangkan menurut informasi dari BMKG, gempa bumi dirasakan di Pariaman dengan intensitas IV MMI, di Padang dengan intensitas III - IV MMI, di Padang Panjang dengan intensitas II - III MMI, di Bukittinggi, Solok, dan Payakumbuh dengan intensitas II MMI. Sampai laporan ini dibuat belum dilaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan bangunan.
  5. Rekomendasi :
  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang energinya lebih kecil dari gempa utama.
  • Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, walaupun gempa bumi berpusat di laut, namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu tsunami.
Demikian isi laporan mengenai tanggapan Gempa Bumi Pesisir Selatan Sumatera Barat dari Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia - Badan Geologi tertanggal 13 Juni 2013.

Rabu, 29 Mei 2013

PULUHAN PESERTA NAPAK TILAS KABUPATEN SOLOK TERSESAT

Padang (29/05), Kabupaten Solok dalam rangka memperingati hari jadinya telah mengadakan kegiatan Napak Tilas yang diikuti sebanyak 40 peserta dengan mengambil rute dimulai dari Koto Sani Kabupaten Solok dan Finish di Kota Padang. Perkiraan perjalanan tersebut dapat ditempuh dengan jarak 30 km dan memakan waktu selama 12 jam perjalanan, namun diluar dugaan karena faktor cuaca saat itu hujan hingga peserta sampai tersesat. Informasi diperoleh saat peserta sebanyak 19 orang telah tiba di wilayah Air Dingin Kota Padang pada pukul 10.00 wib dalam keadaan dehidrasi dan lemas. 

Peserta Napak Tilas Tim Pertama sebanyak 19 orang dalam pemulihan kesehatan (Posko Penjemputan, 28/05/13)
 
Tim Pantia yang telah stanby di Posko Penjemputan yaitu di Pasar Lalang Kecamatan Kuranji segera memberikan bantuan dan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak-pihak terkait guna melakukan pertolongan dan pengobatan serta mengadakan pencarian sebanyak 21 orang lagi termasuk peserta didalamnya adalah Ketua DPRD Kabupaten Solok Datuk Siri Marajo. 

Peserta yang telah tiba di tempatkan di Posko Pasar Lalang untuk pemulihan kesehatannya sambil menunggu rekan-rekannya yang masih dalam pencarian hingga saat ini oleh Tim SAR gabungan dengan posisi para korban diketahui terakhir pada ketinggian 400 meter dpl. 

Tim Penyelamatan sedang melakukan komunikasi dengan BNPB Jakarta (Posko Penjemputan 28/05/13)

 Tim Operasi Penyelamatan ini terdiri dari 79 orang yang berasal dari; Basarnas, BPBD Kabupaten Solok, BPBD Kota Padang, Relawan dari Masyarakat, Sekber Kota Padang, Pusdalops PB BPBD Prov. Sumbar, Rapi, Dinas Kesehatan, dan PMI. Semoga pencarian ini dapat membuahkan hasil dan para korban dapat terselamatkan.

Peta perkiraan rute napak tilas Tim Ketua DPRD Kab. Solok


Jumat, 24 Mei 2013

ABRASI PANTAI NAGARI PASAR LAMO

Pasaman Barat (24/5), Sejak 3 Minggu lewat warga yang bermukim di pinggir pantai yaitu daerah nagari Pasar Lamo Kelurahan Sasak Kecamatan Sasak Ranah Pesisir Kabupaten Pasaman Barat tertimpa bencana akibat terjadinya gelombang pasang yang disertai dengan tiupan angin kencang sehingga terjadi abrasi pantai sekitar 10 meter dari bibir pantai. Kejadian ini terjadi apda tanggal 10 Mei 2013 pagi hari berkisar pukul 06.00 wib, Warga yang bermukim diarea tersebut sekitar 412 KK. Akibat dari Abrasi pantai ini 9 rumah mengalami rusak berat dan terpaksa diungsikan ke rumah sanak familinya serta sekitar 80 rumah masyarakat lainnya terancam karena berada paling dekat dengan bibir pantai. Menurut informasi yang kami peroleh dari salah satu petugas dari BPBD Kabupaten Pasaman Barat, upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah setempat yaitu BPBD Kabupaten Pasaman Barat dan bergabung dengan Dinas SOsial dan Dinas Kesehatan sementara waktu telah mendirikan Posko dan tenda pengungsian. Bapak Bupati Pasaman Barat juga telah menetapkan Operasi Tanggap Darurat Bencana Alam Abrasi Pantai tersebut selama 14 hari sejak tanggal 10 Mei 2013 hingga berakhir pada hari kemarin 23 Mei 2013. Berikut video tanggapan masyarakat Nagari Pasar Lamo saat di wawancarai oleh wartawan dari Minang TV : Sumber Video: Minang TV

Kamis, 18 April 2013

PENGAKHIRAN TANGGAP DARURAT BANJIR SIBERUT

Muara Siberut (17/4), Terkait pelaksanaan Tanggap Darurat Bencana Alam Banjir yang terjadi di Siberut yang pelaksanaannya oleh Bapak Bupati dilaksanakan selama 10 hari dimulai tanggal 08 April 2013 sampai dengan 17 April 2013 pada malam hari ini tanggal 17 April 2013 di Posko Utama Kantor Lurah Muara Siberut dilakukan rapat evaluasi dan sekaligus dilaksanakan penutupan. Rapat tersebut dihadiri oleh Bapak Wakil Bupati Rijel Samaloisa, Ibu Seminar Siritoitet - Staf Ahli Kantor Bupati Kepulauan Mentawai, Paulinus Sabelp - Kadinsos Nakertrans serta Tim Pusdalops PB BPBD Provinsi Sumatera Barat, para Muspika Kecamatan Siberut Selatan antara lain Danramil, Danlanal, Kapolsek, Kepala Polhut, Dinkes, Kepala Camat Siberut Selatan dan Kepala Desa Muara Siberut serta relawan.

Hatisama Hura, SP selaku Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kepulauan Mentawai yang dipercayakan oleh Bapak Bupati Kepulauan Mentawai dalam upaya penanganan darurat menjelaskan dalam pembukaan rapat ini bahwa dalam pelaksanaan Operasi Tanggap Darurat Banjir Siberut ditetapkan jumlah keluarga yang terkena dampak sebanyak 1.939 KK yang terdiri dari : 
  1. Kecamatan Siberut Selatan sebanyak 548 KK, 
  2. Kecamatan Siberut Utara sebanyak 808 KK, 
  3. Kecamatan Siberut Barat 145 KK, 
  4. Kecamatan Siberut Baratdaya sebanyak 204 KK, dan 
  5. Kecamatan Siberut Tengah sebanyak 234

Jumlah rumah masyarakat yang terkena dampak untuk kondisi rusak berat sebanyak 17 rumah dalam kondisi hanyut, berada di kecamatan :
  1. Kecamatan Siberut Utara sebanyak 11 unit
  2. Kecamatan Siberut Baratdaya sebanyak 6 unit
Bapak Hatisama Hura juga menjelaskan "Selama pelaksanaan Tanggap Darurat telah dilakukan secara bersama-sama yang di dukung oleh para Muspika dalam upaya pembersihan dan perbaikan darurat rumah, sarana pendidikan, sarana ibadah, dan kantor, pembersihan jalan umum, perbaikan darurat jembatan dan juga pemberian bantuan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang terkena dampak pada 5 kecamatan. Namun demikian Tim kita masih belum melakukan penanganan di wilayah desa Sagalubbek Kecamatan Siberut Baratdaya yang selain dikarenakan faktor cuaca yang kurang mendukung juga dikarenakan menipisnya logistik yang berada di Posko Utama serta pendanaan transportasi ke wilayah tersebut. Selain itu rencananya akan dilakukan pembagian seragam sekolah bagi pelajar SD di 5 kecamatan namun menunggu hasil pendataan dari Tim Dinas Pendidikan masing-masing.

Rapat Penutupan Pelaksanaan Tanggap Darurat Banjir Siberut (Muara Siberut 17/4/2013)
Kemudian Bapak Wakil Bupati dalam rapat membuka pidatonya bahwa pelaksanaan Operasi Tanggap Darurat dengan Komandan Tanggap Darurat oleh Bapak Elisa Siriparang Kalaksa BPBD Kepulauan Mentawai yang pada pelaksanaan Operasi Tanggap Daruratnya dipimpin langsung oleh Hatisama Hura, telah dilaksanakan dengan cukup baik dan mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah terlibat langsung serta memberikan dukungan dan bantuannya. 

Turut dijelaskan juga bahwa Pemerintah Kepulauan Mentawai masih memiliki kendala atau kekurangan dalam hal bidang komunikasi dalam upaya pemberian pelaporan dan data, serta terhambatnya pemberian bantuan logistik yang dikarenakan kurangnya kebutuhan logistik yang berada Pemerintah Kepulauan Mentawai, dan juga belum ditetapkannya pembentukan Tim Taruna Siaga Bencana.  Besok Wakil Bupati beserta rombongan akan melakukan peninjauan langsung ke lokasi dan Tim supaya dibagi untuk melakukan peninjauan ke wilayah dusun Sirisurak dan dusun Simoilaklak desa Saibi Kecamatan Siberut Tengah dan Tim lainnya diupayakan untuk menuju Siberut Baratdaya desa Sagalubbek untuk melakukan verifikasi dan nantinya  akan didistribusikan bantuan.

Setelah diadakan tanya jawab, rapat kemudian ditutup pada pukul 22.30 wib.

Rabu, 10 April 2013

DISTRIBUSI BANTUAN DARI PROVINSI DIBERANGKATKAN BESOK

Padang (10/4), Pada sore hari ini jajaran instansi Sumatera Barat yang terdiri dari BPBD Sumatera Barat, Dinas Sosial Sumatera Barat, Dinas Kesehatan Sumatera Barat dan PMI Sumatera Barat masing-masing telah mempersiapkan kebutuhan logistik yang diperuntukkan bagi korban bencana alam banjir gelombang pasang yang terjadi di 4 kecamatan yaitu ; Siberut Utara, Siberut Selatan, Siberut Tengah, dan Siberut Barat Daya di Kepulauan Mentawai. 

Ir. Ade Edward selaku Kabid. Kedaruratan menjelaskan bahwa kami mengalami keterbatasan dalam hal alat transportasi untuk menuju lokasi. Distribusi bantuan tersebut sedikit mengalami keterlambatan dikarena alat transportasi yang dipergunakan untuk menuju lokasi tersebut hanya bisa menggunakan alat transportasi umum melalui jalur laut, dan jadwal keberangkatan kapal satu-satunya adalah pada hari Kamis besok dengan menggunakan Kapal Ambu-Ambu. Jadi keberangkatan akan dikerahkan dari masing-masing instansi adalah besok hari dengan membawa logistik bantuan masing-masing berupa :
  

1 BPBD PROV. SUMBAR Family Kit 200 box
    Food Ware 100 box
    Matras 100 lbr
    Terpal 10 lbr
    Schol Kit 50 box
2 PMI SUMBAR Family Kid  100 box
    Baskom Of Family 100 pcs
    Kelambu 100 pcs
    Terpal Ulir 100 lbr
    Hygen Kit 100 Unit
    Pakaian Layak Pakai 33 pcs
3 DINAS SOSIAL PROV. SUMBAR Tenda Gantung 500 lbr
    Matras 500 lbr
    Kain Sarung 500 pcs
    Kain Batik Panjang 500 pcs
    Kaos Kerah Dewasa 500 pcs
    Daster Dewasa 500 pcs
    Seragam SD Laki-laki 1.000 stel
    Seragam SD Perempuan 1.000 stel
    Sarden 14.160 klg
    Mie Instant 20.000 bks
4 DINAS KESEHATAN PROV. SUMBAR Makanan Pengganti ASI 20 box
    Kaporit 5 klg
    Larutan Penjernih Air Cepat 3 box
    Kotrimoxzole 10 box
    Antasid 10 box

Hari ini seluruh logistik bantuan telah standby di instansi dengan truk masing-masing dan siap berangkat pada esok harinya menuju Siberut di Posko Muara Siberut.

Persiapan Distribusi Bantuan dari BPBD Prov. Sumbar



Persiapan Distribusi Bantuan dari Dinas Sosial Prov. Sumbar



Persiapan Distribusi Bantuan dari PMI Sumbar





Selasa, 09 April 2013

LAPORAN BUPATI MENTAWAI TERKAIT BANJIR GELOMBANG PASANG

Tim BPBD Mentawai saat persiapan keberangkatan menuju Siberut (7/4)
Padang (9/04), Kejadian banjir akibat gelombang pasang terjadi pada hari Jum'at tanggal 5 April 2013 yang sempat menimbulkan banjir dan menggenangi rumah-rumah penduduk di wilayah 4 Kecamatan di Siberut Kepulauan Mentawai. Akibat banjir tersebut mengakibatkan beberapa rumah hanyut dan mengalami kerusakan juga beberapa fasilitas umum tergenangi oleh banjir. Sampai berita ini dibuat tidak didapat korban jiwa pada 4 kecamatan tersebut. Ketinggian air bervariasi antara ½ meter hingga menggenangi sampai atap rumah.  

Menurut Bapak Bupati Mentawai Yudhas Sibaggalet yang berhasil memberi keterangan pada tanggal 8 April 2013 kemarin, Kerusakan Rumah Masyarakat terdapat di wilayah:  
  1. 10 (sepuluh) unit rumah Rusak Berat/ Hanyut di desa Mongan Poula ,  
  2. 1 (satu) unit rumah Rusak Berat di desa Srilanggai
Fasilitas Umum terendam : 
  1. 3 (tiga) unit Sekolah Dasar
  2. 2 (dua) unit Puskesmas Pembantu
Untuk pengungsian terdapat di 4 (empat) kecamatan yang terdampak :  
  1. Kecamatan Siberut Selatan : Desa Puro 127 kk, Desa Maileppet 35 kk , Desa Muntei 298 kk. 
  2. Kecamatan Siberut Utara : Desa Mongan Poula 300 kk, Desa Srilanggai 200 kk, Desa Sotboya 198 kk, Desa Nangnang 22 kk. 
  3. Kecamatan Siberut Tengah : Desa Saibi 89 kk. 
  4. Kecamatan Siberut Barat Daya : Desa Peipei 46 kk. 
Total Pengungsi diperkirakan berjumlah 1.315 kk, yaitu kurang lebih 7.000 jiwa.


Tindak Lanjut dan Situasi : 
  • Aparat Kecamatan bersama TNI dan POLRI beserta tokoh masyarakat dan pemuda, telah langsung mengungsikan para korban ketempat yang lebih aman seperti ke Gereja, rumah penduduk / family dan Balai Pertemuan di tempat yang lebih tinggi.
  • Petugas telah membagikan stok pangan yang tersedia di Kecamatan.
  • Mengirim Tim BPBD Mentawai yang dipimpin oleh Bupati dan Ketua DPRD ke lokasi bencana dari Ibukota Kabupaten Tua Pejat yang di dukung oleh Personil dan Logistik yang tersedia di Tua Pejat. 
  • Telah melaksanakan Rakor Tanggap Darurat di Muara Siberut Kecamatan Siberut Selatan dan menetapkan keadaan Darurat Bencana dengan masa Tanggap Darurat selama 14 hari terhitung sejak 6 April 2013. 
  • Mengaktifkan Posko Tanggap Darurat di Muara Siberut dan menetapkan organisasi Tanggap Darurat.
Tim meninggalkan Tua Pejat menuju lokasi Banjir di Siberut dgn dukungan personil berjumlah 20 orang (7/4)

Kendala yang dihadapi oleh Tim saat ini dalam upaya pelaksanaan Operasi Tanggap Darurat adalah : 
  • Komunikasi dari lokasi bencana ke Posko Tanggap Darurat di Muara Siberut tidak tersedia.
  • Transportasi darat sebagian besar hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. 
  • Transportasi laut dari Padang – Posko Tanggap Darurat serta ke lokasi bencana terkendala oleh gelombang samudera yang hingga saat ini berketinggian mencapai maksimal 6 meter dari arah sebelah barat kepulauan Mentawai .
Bapak Bupati Mentawai juga mengharapkan kepada Pemerintah yang lebih tinggi, bahwa dengan adanya keterbatasan dalam melaksanakan proses Operasi Tanggap Darurat di wilayahnya  ”Mohon bantuan untuk kelancaran Operasi Tanggap Darurat tersebut”.

Minggu, 07 April 2013

Cuaca Sumatera Barat Kurang Kondusif

Padang (07/04), Sumatera Barat pada 3 hari terakhir ini mengalami cuaca yang kurang bersahabat. Hujan disertai tiupan angin kencang hingga terjadinya ketinggian gelombang hingga menyebabkan banjir ROB di daerah pinggir pantai. seperti halnya yang terjadi di Kepulauan Mentawai; banjir ROB menimpa kecamatan Siberut Utara di desa Mangonpalou yang menyebabkan masyarakat pinggir pantai yang diperkirakan berjumlah 400 kk dievakuasi oleh petugas ketempat ketinggian. Koordinasi susah dilakukan oleh BPBD Provinsi hingga saat ini, hal ini dikarenakan faktor cuaca yang buruk di wilayah Mentawai, terakhir kami memperoleh informasi pada hari ini yang bersumber dari anggota DPRD Kep. Mentawai begitu Bpk Ir. Ade Edward menuturkan. 

Kabid. Kedaruratan & Logistik BPBD Sumatera Barat kembali menjelaskan "Sejak 3 hari lalu sampai sekarang baik di Kabupaten/ Kota di Sumatera Barat diterjang hujan lebat disertai badai dan gelombang samudera. Alhamdulillah dampak fisik ringan dan korban 2 jiwa luka ringan sudah ditangani dengan baik oleh BPBD Kabupaten/ Kota setempat. Tiga hari kedepan masih akan dihadapi hal yang lebih beresiko. 

Peringatan dini sudah disampaikan kepada BPBD Kabupaten/ Kota untuk diteruskan kepada camat dan masyarakat serta mensiagakan petugas beserta peralatan 24 jam. Sosialisasi melalui media Sumatera Barat sudah dilakukan".



Kamis, 04 April 2013

Prospek Cuaca dan Peringatan Dini, Sumatera Barat, 4 Apil 2013

Berdasarkan laporan BMKG melalui website BMKG, http://bmkg.go.id, prospek cuaca sepanjang bulan April 2013 Wilayah Sumatera Barat akan berpeluang diguyur hujan dengan Curah hujan sedang, dan Curah hujan tinggi berpeluang di Wilayah Sumatera Barat Bagian Tengah, meliputi Kota Padang, Kota Bukit Tinggi, Kota Padang Panjang, Kota Payakumbuh, Kab. Agam, Kab. Solok, Kab. 50 Kota, Kab. Tanah Datar, serta Kab. Pasama dan Pasaman Barat bagian Selatan.
Curah hujan tinggi dapat mengakibatkan banjir dan longsor
 
 

Prospek cuaca tanggal 5-8 april 2013 umumnya berpeluang hujan ringan hingga sedang terutama sore dan malam hari. Waspadai hujan lebat beserta petir di wilayah pesisir Sumatera Barat, Sumatera Barat bagian Utara dan Selatan.

Peringatan dini gelombang Tinggi, gelombang pasang dan abrasi Tanggal 6 - 9 April 2013::
gelombang 2-4 meter berpeluang terjadi di Pesisir Barat Sumatera/Selat Mentawai, gelombang 3-6 meter berpeluang terjadi wilyah Kepulauan Mentawai bagian Barat, Selatan dan Samudera Hindia. 
Waspadai gelombang tinggi dapat membahayakan pelayaran dan dapat mengakibatkan gelombang pasang di wilayah pesisir dan meningkatnya potensi abrasi.
 

 
 Sumber : BMKG