Powered By Blogger

Sabtu, 21 Mei 2011

Mitigasi Gempa Bumi dengan Pemantauan Pola Awan




Jumat siang, 11 Maret 2011, gempa dahsyat dengan kekuatan 8,8 skala Richter mengguncang Jepang. Lindu memicu tsunami yang menggulung bangunan, manusia, apapun yang ada di wilayah pesisir timur laut. Jepang, yang tersohor sebagai negara paling siap menghadapi bencana gempa, porak poranda.

Namun, sejatinya alam sudah memberi peringatan. Apakah itu? Menurut profesor ilmu bumi di Chapman University di California, Dimitar Ouzounov, atmosfer di atas episentrum gempa Jepang mengalami perubahan tak biasa -- dalam beberapa hari menjelang bencana.

Penelitian ini masih data awal, belum dipublikasikan di jurnal akademis dan direview oleh ilmuwan lain, namun menawarkan sesuatu yang menarik, bahwa mungkin gempa bisa diprediksi. "Meski, potensi ilmuwan memperkirakan terjadinya gempa masih 'jauh'," kata Ouzounov seperti dimuat LiveScience, Kamis 19 Mei 2011.

Menatap langit untuk melihat pertanda bencana, khususnya gempa, sebenarnya bukan ide baru. Ada teori yang dikenal sebagai "Lithosphere-Atmosphere-Ionosphere Coupling mechanism" atau "Mekanisme kaitan Litosfer-Atmosfer-Ionosfer".

Seperti ini penjelasannya: sebelum gempa bumi terjadi, patahan yang tertekan akan mengeluarkan lebih banyak gas, khususnya gas radon yang tidak berwarna dan tak berbau.

Setelah berada di ionosfer, gas radon melepaskan molekul udara elektronnya, memisahkan partikel bermuatan negatif (elektron bebas) dan partikel bermuatan positif. Partikel-partikel bermuatan yang juga disebut ion, lantas menarik air dalam proses melepaskan panas. Dan, para ilmuwan bisa mendeteksi panas ini dalam bentuk radiasi inframerah.

Menggunakan data satelit, Ouzounov dan para koleganya mengawasi perubahan atmosfer yang terjadi beberapa hari sebelum gempa Jepang. Mereka menemukan, konsentrasi elektron dalam ionosfer meningkat, demikian juga dengan radiasi inframerah. Pada 8 Maret 2011, tiga hari sebelum gempa, adalah saat yang paling anomali.

Para peneliti juga telah mengumpulkan data lebih dari 100 gempa di Asia dan Taiwan. Menurut Ouzounov, mereka menemukan korelasi yang sama untuk gempa yang magnitudenya lebih besar dari 5,5 skala Richter dengan kedalaman kurang dari 50 kilometer. Tim saat ini sedang berusaha melibatkan para ahli gempa Jepang dan seluruh dunia dalam sebuah misi ambisius: pemantauan atmosfer internasional sebagai upaya mitigasi gempa.

Meski demikian, kesuksesan ramalan gempa masih belum terjamin. Belum ada satu pun orang yang memprediksi gempa berdasar data atmosfer. Terkadang pertanda gempa bisa dilihat dari tingkah aneh binatang atau air tanah yang berubah aliran.

Apakah ada peluang gempa bisa diprediksi lewat data atmosfer? "Ini sangat menarik," kata Henry Pollack, profesor emeritus geofisika di University of Michigan, yang tak terlibat dalam penelitian ini. "Namun masih sulit untuk disebut sebagai sebuah terobosan."

Menruut Pollack, peneliti harus melihat banyak data atmosfer terkait gempa yang ada untuk memastikan fenomena menyangkut pecahnya patahan gempa. Juga harus ditelaah, seberapa sering anomali muncul, namun tak terkait sama sekali dengan gempa.

Sementara, Terry Tullis, profesor emeritus ilmu geologi di Brown University juga sama ragunya. Para ilmuwan ahli gempa telah banyak belajar di masa lalu, untuk tidak merasa senang setiap kali muncul metode prediksi gempa. "Saya tak bermaksud menyingkirkan optimisme itu, tapi dalam titik ini, orang harus skeptis." (umi- vivanews)

Potensi Banjir bulan Mei dan Juni 2011




Pada bulan Mei 2011 hingga Juni 2011, wilayah Sumatera Barat sebagian mulai diguyur hujan, dan dari hasil pemantauan kami Tim Pusdalops PB Sumatera Barat ke daerah-daerah, ada beberapa wilayah seperti Kota Payakumbuh, Pariaman sebagian daerahnya mulai digenangi air akibat hujan lebat yang melanda daerahnya.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika melaporkan hasil pemantauan iklim wilayah-wilayah yang berpotensi terkena banjir di Sumatera Barat :

1. Potensi banjir bulan Mei 2011,

2. Potensi banjir bulan Juni 2011,

Diharapkan BPBD Kabupaten dan Kota wilayah Sumatera Barat terutama yang masuk dalam daftar zona banjir diharapkan dapat segera mengupayakan mitigasinya dan membangun posko penanggulangannya. Dan bagi masyarakat agar tetap selalu waspada dan mempersiapkan diri untuk melakukan tindakan antisipatif terhadap diri dan keluarga.

Selasa, 03 Mei 2011

Perkiraan Potensi Pergerakan Tanah Sumatera Barat bulan Mei 2011



Cuaca di wilayah Sumatera Barat pada bulan Mei 2011 umumnya berpotensi hujan, sehingga dapat mempengaruhi pergerakan tanah di wilayah pegunungan atau perbukitan.

Wilayah-wilayah yang memiliki kerentanan tanah yang berpotensi menengah hingga tinggi antara lain :
I. Kabupaten
1. Solok
2. Solok Selatan
3. Agam
4. Padang Pariaman
5. Sawahlunto/ Sijunjung
6. Dharmasraya
7. Lima Puluh Kota
8. Pasaman Barat
9. Pasaman
10. Pesisir Selatan
11. Mentawai

II. Kota
1. Solok
2. Bukittinggi
3. Padang
4. Sawahlunto

Ini dapat terjadi jika curah hujan diwilayah tersebut diatas normal dan memicu gerakan tanah lama/ sebelumnya. Diharapkan BPBD Kabupaten/ Kota wilayah Sumatera Barat agar dapat memberikan pemantauan dan upaya mitigasi terhadap wilayahnya masing-masing.

Berikut data zona wilayah kerentanan tanah pada masing-masing daerah Download Disini

Rabu, 27 April 2011

Kebon Binatang Mini Sumbar Dalam Upaya Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami


Riset pengurangan risiko bencana memanfaatkan insting hewan akan dibangun di Padang. Pembangunan kebun binatang mini akan dilakukan sebagai upaya mengurangi resiko bencana gempa dan tsunami. Hewan yang memiliki insting bagus tentang kebencanaan akan ditempatkan di lokasi tersebut nantinya.

Seberapa efektif menggunakan insting hewan untuk memberikan peringatan dini bagi warga di pinggir pantai barat Samudera Hindia ini? Signal peringatan dini yang diberikan sejumlah hewan seperti Gajah, Burung Kuau, dan Siamang, akan dipantau menggunakan kamera pengintai.

Agar signal yang dihasilkan dari sejumlah hewan ini efketif, kebun binatang mini ini akan dibangun tak jauh dari bibir pantai. Kawasan perbukitan di Gunung Padang yang sejajar dengan garis pantai direncanakan akan menjadi lokasi pembangunan kebun binatang mini.

Didiagnosis perairan Mentawai menyimpan potensi gempa dahsyat dan rentetan gempa dan tsunami yang menghantam Sumbar, beragam upaya mitigasi dilakukan. Pembangunan kebun binatang ini menjadi ide alternatif yang disampaikan Staf Khusus Kepresidenan Bidang Bencana Mengurangi Dampak Bencana Gempa dan Tsunami.

"Riset ini patut untuk dicoba. Hasilnya akan maksimal setelah kebun binatang ini selesai dibangun," ujar Bpk. Ade Edward Kabid.Kedaruratan & Logistik BPBD Prop. Sumbar, dan sebagai Koordinator Pusdalops PB Prop. Sumbar). Sejumlah donatur telah bersedia membantu pembangunan kebun binatang ini.

Sebagai upaya pengurangan resiko bencana, sejumlah kamera pengintai akan ditempatkan di lokasi kebun binatang untuk mengamati perilaku hewan-hewan yang dikarantina di sana. Penelitian ini muncul didasari dengan kemungkinan besar tentang kemampuan hewan yang mengetahui lebih cepat datangnya bencana ketimbang manusia.

Seperti Burung Kuau yang diyakini memiliki insting tajam terkait gempa. Burung yang tergabung dalam jenis Argusianus dikabarkan memiliki insting kuat terkait gempa. Hanya saja, hal ni perlu pembuktian karena hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang membenarkan teori tersebut.

Di kebun binatang mini ini nantinya akan menjadi bahan penelitian yang akan melibatkan sejumlah ahli dari universitas untuk memperkuat teori yang ada secara ilmiah.

Senin, 24 Januari 2011

Kalender Kewaspadaan tahun 2011



Setelah menciptakan kalender tahun 2010 H pada tahun 2011 ini kembali Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Provinsi Sumatera Barat menciptakan Kalender Tahun 2011 M / 1432 H yang mana penanggalan ini ditujukan bagi Petugas Pusdalops PB Prov. Sumatera Barat dan Instansi/ lembaga Kebencanaan lainnya serta masyarakat sebagai bahan kewaspadaan kita terhadap bencana alam yang terjadi di wilayah Indonesia dan Sumatera Barat khususnya. Kalender ini dikonsep oleh bapak Ir. Ade Edward yaitu ahli Geologi Sumatera Barat yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Kedaruratan & Logistik BPBD Sumatera Barat serta menjabat sebagai Koordinator Manajer Pusdalops PB BPBD Sumatera Barat.
Tujuan pembuatan Kalender 2011 ini adalah sebagai bahan kewaspadaan tentang kebencanaan terutama potensi Gempa Bumi yang terjadi diwilayah Sumatera Barat dengan berpedoman pada peredaran / posisi Bulan yang mana sangat mempengaruhi terhadap gravitasi Bumi dan siklus perubahan alam yang ada di Bumi kita. Dan kalender kewaspadaan bencana alam tahun 2011 ini juga dilengkapi dengan pemberian tanda Hari Libur Nasional.

Copy(R)right by Pusdalops PB Sumatera Barat:

Konceptor : Ir. Ade Edward (Koordinator Pusdalops PB Sumbar)
Design : Ferry Faisal (Petugas Operator Pusdalops PB Sumbar)

Silahkan didownload Kalender Siaga Bencana 2011
password: pusdalopspbsumbar

Selasa, 26 Oktober 2010

Rabu, 13 Oktober 2010

Resiko Gempa Bumi Sumatera Barat









Pada hari Selasa tanggal 12 Oktober 2010, Staf Khusus Bidang Sosial dan Bantuan Bencana Kepresidenan Bpk. Andi Arif beserta Pakar ahli geologi dan tsunami al; Bpk. Danny Hilman, Bpk. Wahyu dan Bpk. Hamzah berkunjung ke Sumatera Barat dalam rangka Desiminasi Gempa Bumi dan Tsunami Propinsi Sumatera Barat yang diterima oleh Bapak Gubernur Sumatera Barat beserta jajaran. Beliau menyampaikan paparan mengenai bahaya gempa besar yang diprediksi akan terjadi di Mentawai/Sipora, kriteria gempa tersebut antara lain mengakibatkan permukaan pantai Siberut - Sipora akan terangkat sekitar 2 meter sedangkan daratan pesisir Padang akan turun 1,5 meter. Sementara permukaan pantai Kota Padang akan turun 1,5 meter.



Mengacu pada hasil penelitian selama ini, potensi tsunami di pantai Barat Mentawai diprediksi dapat mencapai ketinggian gelombang 15 meter, sedangkan di pantai timur Mentawai hanya mencapai 1 (satu) meter. Untuk kawasan pesisir barat Sumatera Barat, tsunaminya paling tinggi satu meter, namun akan merendam daratan hingga tiga kilometer dari pantai karena topografi daerah yang landai & rendah.

Dari hasil dadat pengukuran terkini, diperkirakan bidang yang belum mengeluarkan energi (seismic gap) berada di bawah pulau Siberut dan sebagian Sipora memiliki luas 100 kilometer x 400 meter.Bidang ini merupakan lokasi pusat gempabumi dimasa dating. Danny yakin gempa berkekuatan 8,9 SR dimasa datang akan terjadi meski tak bisa dipastikan kapan, namun potensinya makin nyata.



Para peneliti dapat memperkirakan kawasan/zona potensial pembangkit gempa dengan perkiraan magnitud secara lebih akurat untuk kurun wakut kedepan, namun tidak ada yang bisa menentukan kapan saat gempa akan terjadi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan sejak tahun 1999, pengulangan itu sungguh akan terjadi karena masanya telah sampai pada periode pengulangannya. Untuk itu perlu diantisipasi bagaimana menyelamatkan sekitar 800 ribu lebih masyarakat yang bermukim dikawasan rawan gempa-tsunami di Sumatera Barat dari ancaman gempabumi-tsunami dimasa datang.

untuk melihat paparan yg telah disampaikan oleh Bpk. Danny hilman dapat didownload di Klik Disini


Upaya Pengurangan Resiko Bencana.


Kepala Pelaksana BPBD Sumatera Barat Bpk. Harmensyah menyampaikan, karena tingginya resiko bencana Provinsi Sumatera Barat, perlu upaya pengurangan resiko bencana meliputi :

  1. Penelitian/pemetaan/penetapan kebijakan bagi wilayah beresiko bencana
  2. Sosialisasi/pendidikan/pelatihan/gladi/simulasi tentang pengurangan resiko bencana bagi masyarakat & aparat
  3. Revisi tata ruang daerah menjadi tata ruang yang berbasis pertimbangan aspek kebencanaan
  4. Pembangunan kawasan & bangunan AMAN GEMPA sesuai dengan tingkat ancaman
  5. Pengembangan industri bahan bangunan & konstruksi berbasis teknologi terkini yang dapat menghasilkan produk berstandar SNI guna mendukung pembangunan yang AMAN GEMPA dengan biaya yang minimal (terjangkau)
  6. Pembangunan infrastruktur peringatan dini/penyelamatan/evakuasi
  7. Pembangunan, pengembangan & Pengujian berkala Sistim Peringatan Dini Bencana
  8. Pembangunan, pengembangan & Pengujian berkala Sistim Komunikasi Darurat Bencana
  9. Penyiapan sarana/prasarana/dana tanggap darurat/personil untuk pelaksanaan operasi tanggap darurat bencana



Selasa, 05 Oktober 2010

Protap TRC PB Sumatera Barat

Sumatera Barat memiliki wilayah yang rawan dari berbagai bencana dan apabila terjadi bencana, maka masyarakat yang terkena bencana berhak mendapat pelayanan dan perlindungan berdasarkan standar pelayanan minimum mulai dari pencarian, penyelamatan, evakuasi, pertolongan darurat, pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana meliputi pangan, sandang, air bersih dan sanitasi, pelayanan kesehatan, dan penampungan/hunian sementara.

Untuk itu perlu kegiatan pengkajian/penilaian cepat terhadap korban meninggal dunia, luka-luka, pengungsi, kerusakan perumahan/kantor/sarana ibadah/sarana pendidikan, sarana dan prasarana vital lainnya. Pada saat tanggap darurat bencana terdapat berbagai permasalahan antara lain waktu yang sangat singkat, kebutuhan yang mendesak dan berbagai kesulitan koordinasi antara lain yang disebabkan karena banyaknya institusi yang terlibat dalam penanganan darurat bencana, kompetisi dalam pengerahan sumberdaya, otonomi yang berlebihan dan ketidak percayaan kepada instansi pemerintah.

Hal ini perlu dilakukan koordinasi yang lebih intensif dalam rangka memperlancar penyelenggaraan penanganan darurat bencana. Sehubungan dengan hal tersebut diatas perlu ditugaskan Tim Reaksi Cepat dari berbagai instansi/institusi yang bekerja berdasarkan Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat Provinsi Sumatera Barat.

Tentang TRC Penanggulangan Bencana Sumatera Barat selengkapnya, silahkan download di Klik Disini