Powered By Blogger

Jumat, 01 November 2013

REKAP GEMPA PERIODE 01 JANUARI - 31 OKTOBER 2013


Sepanjang tahun 2013 pada bulan Januari hingga Oktober tercatat minimal 87 kali gempa pada area terpilih sepeRti pada peta di bawah. Sumber data yang kami pilih adalah dari http://www.emsc-csem.org/Earthquake/?filter=yes karena pada situs tersebut dapat dipilih secara interaktif area yang diinginkan untuk penampilan data baik dengan pemberian batas maksimum dan minimum pada garis lintang (latitude) dan garis bujur (longitude) maupun klik and drag (membuat kotak) pada peta yang sudah tersedia.


Berikut adalah data yang diperoleh: 



berikut peta sebaran gempa yang telah direkap tersebut:
 
Terdapat 15 kali gempa dengan magnitude >5  Gempa terkuat terjadi pada :

1. 7/6/2013 jam 5:05:08 UTC atau 12:05:08 WIB di Selatan Pagai, KEP. MENTAWAI pada 100.53 BT dan 3.26 LS, Magnitude 6, 00 Kedalaman 30 km.







2. 2/6/2013 jam  22:12:18 (UTC) atau 05:12:18 WIB di Barat Daya Kota Padang pada koordinat 100.24 BT dan 1.49 LS, Magnitud 5,6 kedalaman 10 km

Secara umum tidak ada laporani dan peringatan dini Tsunami dari BMKG


Pusdalops PB BPBD Prov. Sumatera Barat.







































































































































































































































































































































































































































































































































































































































Minggu, 29 September 2013

6 MAPALA UNAND HANYUT DI BATANG SUNGAI KURANJI

Padang (29/09), Berita duka pada hari ini menyelimuti keluarga besar kampus Unand (Universitas Andalas), 8 Mahasiswa yang tergabung dalam MAPALA pada tanggal 28 September 2013 sore kemarin dinyatakan hanyut saat sedang melakukan survey lapangan untuk melakukan kegiatan. Korban 2 orang bernama Ivo dan Meta berhasil selamat dari luapan air saat bersama-sama dengan rekannya melintas aliran sungai Kuranji dan segera melaporkan kejadian tersebut kepada Tim SAR. Proses Pencarian langsung dilaksanakan sejak sore hari kemarin dengan cara melakukan penyisiran dan streching bersama masyarakat setempat dan hingga hari ini pencarian tersebut mulai bergeser ke arah Gunung Nago hingga daerah muara dekat Basco Hotel dengan cara pembagian Tim (dari TNI/POLRI, Pecinta Alam, PMI, BASARNAS, BPBD Kota Padang dan masyarakat setempat)

Dari sore hari kemarin korban telah ditemukan bernama Elin Florita dan Artica Caspela di temukan diarea batang sungai Patamuan dalam keadaan meninggal dunia, sedang pada pagi ini Tim SAR telah menemukan 3 korban dalam keadaan meninggal dunia atas nama: Veglan, Deni dan Rizki sekitar pukul 07.32 wib pagi ini di wilayah dekat Basco Hotel. 

Hingga saat ini tinggal 1 korban lagi atas nama Aidil Akbar masih dalam pencarian Tim SAR.

Berikut nama-nama korban hanyut dari MAPALA UNAND :
Korban Selamat :
  1. Ivo Nurdio Putra  (LK) 24 th, Fak. Sosiologi (2009), Air Haji - Pessel
  2. Meta Ramarita (PR) 20 th, Fak. Peternakan (2010), Pasaman
Korban Meninggal :
  1. Elin Florita (PR), Bawan 2 Jan 1994, Fak. Teknologi Pertanian (2012), Lubuk Basung 
  2. Artica Caspela (PR), Padang 1 Des 1993, Fak. Kedokteran Psikologi (2011), Sungai Batu Asah - Inderapura Selatan
  3. Rizki Tega (LK), Padang 19 Mei 1990, Fak. Ekonomi D-III (2010), Padang
  4. Deni Linardo (LK), Ps. Minggu 9 Feb 1992, Fak. Pertanian (2010), Tarusan - Pessel
  5. Veglan Rizki Ananda (LK), Baso 29 Mei 1994, Fak. Ekonomi (2012), Baso - Agam
Korban masih dalam pencarian :
  1. Aidil Akbar (LK) Bukittinggi 28 Feb 1994, Fak. Ekonomi Akuntansi (2011), Bukittinggi

area penyisiran dan streching oleh Tim SAR (korban hanyut Mapala Unand)

Jumat, 02 Agustus 2013

KESIAPSIAGAAN CUACA EKSTRIM JELANG MUDIK DAN HARI RAYA IDUL FITRI

Tidak terasa Bulan Ramadhan sudah mendekati penghujungnya, tradisi mudik pada akhir-akhir Ramadhan dalam beberapa hari ke depan dipastikan akan meningkat terutama pada H-6 dan H+3. Arus mudik yang menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan peribadi akan memadati jalur-jalur mudik baik lintas provinsi maupun lintas Kabupaten-Kota di seluruh wilayah Indonesia tidak terkecuali di Sumatera Barat.

Peningkatan arus mudik dipastikan akan meningkatkan kepadatan di jalan raya, sehingga ditingkatkan kehati-hatian dan kewaspadaan. Selain itu perlu juga ditingkatkan kewaspadaan dengan memperhatikan faktor cuaca. Kepadatan di jalan raya yang diikuti dengan  faktor cuaca yang tidak mendukung, dapat meningkatkan risiko keamanan dan keselamatan di jalan raya baik selama mudik maupun pada masa masa libur hari Raya Idul Fitri. 


Berdasarkan info cuaca yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG ) mealalui situs www.bmkg.co.id, Prospek curah hujan dalam bulan Agustus 2013 untuk wilayah Sumatera Barat berpotensi Curah Hujan Menengah 151 -300 mm, artinya pada Bulan Agustus ini akan sering terjadi hujan. Pada rentang 2 s/d 8 Agustus 2013, Intensitas hujan umumnya diperkirakan berpotensi hujan ringan pada pagi dan siang hari namun berpotensi hujan sedang hingga lebat pada malam hari. Kesiapsiagaan cuaca ekstrim  terkait dengan banjir, longsor dan angin kencang yang dapat disertai angin puting beliung dan pohon tumbang, terutama sekali perlu ditingkatkan di wilayah Sumatera Barat bagian Barat dan kepulauan.


Berikut adalah beberapa jalur mudik yang patut diwaspadai rawan longsor dan pohon tumbang:


  1. Jalur Kab. Agam -  Kab. Padang Pariaman : Lembah Anai, Malalak
  2. Jalur Kab Agam – Kab. Pasaman dan Kab. Pasaman :Palupuh – Bonjol, Matur – Palembayan – Tigo Nagari, Simpang Alahan Mati – Malampah, dan Lubuk Sikaping – Panti.
  3. Jalur Padang – Kab. Solok :Jalan Provinsi sekitar Panorama II (Sitinjau Laut) - Air Sirah.
  4. Jalur Kab. Solok – Kab. Sijunjung: Sungai Lasi Jalur Kab. 50 Kota – Prov Riau : Kelok 9 – Hulu Air, Tanjung Balit. 
  5. Jalur Kab. Solok – Kab. Solok Selatan : Surian – Air Dingin
  6.  Kota Padang – Kab. Pesisir Selatan : Bungus Teluk Kabung 
  7.  Kab. Solok – Kab. Sijunjung : Sungai Lasi
  8.  Kab. Sijunjung – Kab Dharmasraya : Tanjung Gadang, Sijunjung, dan Muara Takung, Dharmasraya.




Peta berikut dapat menggambarkan titik-titik lokasi rawan bencana yang berkaitan dengan cuaca ektrim, yaitu banjir, longsor dan gelombang tinggi.




Sehubungan dengan hal di atas maka kami menghimbau bahwa dalam meningkatkan kesiapsiagaan perlu diperhatikan kesiapan fisik kendaraan dan stamina dalam menjalani mudik hari raya, jangan ragu-ragu mempersiapan perbekalan selama perjalan, perhatikan faktor cuaca, membawa alat penerangan dan baterai cadangan akan sangat membantu ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan.

Rabu, 10 Juli 2013

PETA BAHAYA GEMPA BUMI ZONA PATAHAN SUMATERA, PROVINSI SUMATERA BARAT

A. Zonasi Wilayah Ancaman Gempa

Sesar/Patahan Sumatera membentang sepanjang 1.900 km (dari Banda Aceh hingga Teluk Semangko di Selatan Lampung), membentang paralel dengan palung/zona subduksi sebagai pengaruh dari konvergensi Lempeng Eurasia dengan Lempeng Indo-Australia (gambar 1). D. Hilman dan K. Sieh, dalam Neotectonic of The Sumatran Fault, Indonesia, 2000, membagi Patahan Sumatra ini menjadi 3 wilayah, yaitu wilayah Utara, Tengah dan Selatan, namun secara keseluruhan, berdasarkan pengamatan pada peta topografi dan foto udara, dibagi menjadi 19 segmen (gambar 2). 


Gambar 1. Tatanan tektonik wilayah Pulau Sumatera-Samudera Hindia
.

Gambar 2. Pembagian segmen Patahan Sumatera (D. Hilman dan K. Sieh, 2000)

Dari 19 Segmen Patahan Sumatera 7 diantaranya terdapat di wilayah Provinsi Sumatera Barat dan akan berdampak langsung terhadap masyarakat yang berada pada zona-zona rentan. Adapun ketujuh segmen tersebut adalah segmen Siulak (2.25°S ~ 1.7°S), segmen Suliti (1.75°S ~ 1.0°S), segmen Sumani (1.0°S ~ 0.5°S), segmen Sianok (0.7°S ~ 0.1°N), segmen Sumpur (0.1°N ~ 0.3°N), Segmen Barumun (0.3°N ~ 1.2°N) dan Angkola sedangkan potensi gempa masing-masing segmen tersebut dapat dilihat pada table 1. 

Tabel 1.   Data dan Parameter sumber gempa pada segmen-segmen  Sesar Sumatera (Tim revisi Peta Gempa Indonesia, 2010).




1. Segmen Angkola
Ujung utara segmen ini bermula pada lembag Batang Toru, menyisir lembah Sungai Batang Angkola dan Batang Gadis di wilayah Sumatera Utara. Sementara ujung Selaatnnya berada di wilayah Sumatera Barat di dekat Lembah Batang Pasaman. Panjang segmen 160 km dengan Potensi kekuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 7,6.
Kerusakan serius dilaporkan pernah terjadi pada tahun 1892 disepanjang lembah Batang Gadis dan Sungai Angkola diantara Malintang dan Lubuk Raya Volcanoes (Visser, 1922 dalam D. Hilman dan K Sieh, 2000).

2. Segmen Barumun
Ujung Utara Berada di Wilayah Sosopan Julu, Sumatera Utara, menyusuri Lembah Sungai Barumun. Bagian Selatan Segmen ini berada di Wilayah Provinsi Sumatera Barat. Panjang segmen 125 km dengan potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 7,6.
Lembah Aliran Batang Asik dan hamparan lembah (depresi) Batang Sumpur di daerah Panti dan Sitompa hingga Sunpadang merupakan bukti dari adanya  pergeseran vertikal berupa amblasan pada bagian segmen ini. 

3. Segmen Sumpur
Segmen Sumpur di bagian Utara burujung pada sisi Selatan Depresi Sumpur, di Selatan Panti, kemudian menyisir Lembah Batang Sumpur ke Tenggara, Salabawan, hingga Bonjol, menyusuri S. Silasung. Panjang segmen 35 km dengan potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 6,9.

4. Segmen Sianok
Segmen ini memanjang dari sisi Timur Luat D. Singkarak, melewati sisi Barat Daya G. Marapi hingga Ngarai Sianok. Panjang segmen 90 km dengan potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 7,3.
Gempa terbesar pernah tercatat pada segmen ini yaitu pada 4 Agustus 1926 dengan pusat hancuran antara Bukit Tinggi dan D. Singkarak. Data terbaru mencatat bahwa  6 Maret 2007 (M 6,4 dan 6,3)  juga terjadi gempa merusak pada segmen ini bersama sama dengan segmen Sumani dan mengakibatkan banyak kerusakan di daerah Batu Sangkar dan Solok.

5. Segmen Sumani
Ujung Utara segmen ini berada di sisi Utara D. Singkarak, menyirisi sisi Barat Daya danau tersebut melintasi daerah Kota Solok, Sumani, Selayo dan berakhir di Utara D. Diateh Tenggara Gunung Talang. Panjang segmen 90 km dengan potensi 65 km kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 7,2.
Gempa merusak tercatat terjadi pada 9 Juni 1943, M 7.4,  di bawah D. Singkarak dan menghasilkan pergeseran horizontal sejauh 1 m 4 (D. Hilaman Natawijaya dkk. 1995), dan gempa pada 6 Maret 2007 juga telah menyebabkan banyak kerusakan di sepanjang segmen ini dari Sumani hingga Selayo.

6. Segmen Suliti
Ujung Utara segmen berada pada D. Diatas dan D. Dibawah dengan lebar zona 4 km pada wilayah tersebut. Patahan Sumatera pada segmen ini menelusuri lembah S. Suliti ke Tenggara hingga anak-anak Sungai Liki di Barat Laut G. Kerinci, dengan panjang total 90 km. Potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 7,4.
Gempa merusak pada segmen ini pernah terjadi pada 9 Juni 1943, M 7,1 (Pacheco dan Sykes, 1992). Menyebabkan kerusakan parah pada bagian Utara Segmen hingga Muarolabuh.

7. Segmen Siulak
Ujung Selatan Segmen ini berada di wilayah Jambi menyusuri lembah di Barat Daya hingga Barat Laut G. Kerinci, overlap dengan segmen Suliti di wilayah Solok Selatan dengan panjang total 70 km. Potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 7,2.
Gempa merusak pernah terjadi pada segmen ini pada 9 Juni 1909 dan  diyakini berkekuatan 7,7 (Abe, 1981) dan menyebabkan kerusakan parah hampir di sepanjang segmen. Kerusakan pada gempa 6 Oktober 1995, M 7,0 diberitakan terjadi pada area yang cukup luas di lembah Barat Laut Danau Kerinci (Kompas 7 Oktober 1995).



B. Risiko dan Upaya Kesiapsiagaan

Gempa-gempa yang berafiliasi dengan zona patahan Sumatera merupakan gempa-gempa berkekuatan sedang hingga kuat dengan potensi kedalaman dangkal, kurang dari 20 km. kuat gempa dengan kedalaman yang dangkal dapat mengakibatkan kerusakan yang hebat dan sangat memungkinkan terjadinya bencana ikutan berupa tanah longsor, hal ini akan menambah risiko kerugian yang dapat diakibatkan oleh gempabumi pada wilayah tersebut.

Selain beberapa catatan bencana gempabumi pada uraian Segmen Patahan Sumatera Diatas, terdapat beberapa pengalaman gempa terbaru yang terjadi di pada Sistem Patahan Sumatera baru-baru ini, yaitu :

  1. Gempa 6,2 skala richter (SR) di Aceh Selasa 2 Juli 2013 yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah dan Kab. Bener Meriah berdampak cukup luas pada masyarakat dimana berdasarkan laporan BNPB  Minggu, 7 Juni 2013  tercatat 40 orang meninggal dunia, 63 orang luka berat, 2.362 luka ringan, dan pengungsi mencapai 22.135 orang, Rumah rusak sebanyak 15.919 unit sedangkan 623. 
  2.  Gempa 6,4 dan 6,3 SR 6 Maret 2007 melanda Kabupaten Solok, Kab. Tanah Datar dan Kota Padang Panjang. Menyebabkan 52 orang meninggal dunia, dan sedikitnya 14.000 unit rumah rusak.

Masih tingginya tingkat kerusakan dan korban yang ditimbulkan oleh peristiwa gempabumi di Daratan Sumatera, terutama di daerah daerah yang berdekatan langsung dengan pusat-pusat episentrum, zona bahaya tinggi, menunjukkan bahwa masih lemahnya upaya mitigasi yang telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat di daerah-daerah tersebut. Berbeda dengan upaya mitigasi bencana tsunami yang telah memiliki program mitigasi yang terencana dan terintegrasi dalam “Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami.”,  Program Mitigasi dan Kesiapsiagaan dalam mengantisipasi bencana gempa bumi darat masih sangat minim dan belum memiliki road map yang terencana dan sistematis.

Perlu jadi perhatian kita semua bahwa wilayah Sumatera Barat yang secara umum rawan terhadap bencana gempabumi, terdapat 12 Kabupaten/Kota dengan total 72 Kecamatan dan 408 Nagari dengan hampir 1.705.878 jiwa (berdasarkan sensus Penduduk 2010) berada pada zona ancaman atau zona bahaya tinggi. Jumlah jiwa terpapar tersebut akan semakin rentan ketika berada di daerah yang bertopografi terjal atau perbukitan  jiwa terpapar ancaman Gempa darat dangkal. Disamping itu hampir seluruh pemukiman di kecamatan-kecamatan yang berada di tengah-tengah Bukit Berisan berada di atas jalur Patahan Sumatera yang cenderung membentuk lembah-lembah dan dataran, artinya bahwa daerah-daerah tersebut berada pada zona ancaman/bahaya tinggi. Dengan potensi magnitude dan kedalaman yang dangkal, gempa di sekitar zona patahan sumatera juga berpotensi menimbulkan bencana ikutan yaitu tanah longsor terutama pada daerah perbukitan bertopografi terjal.

Berikut adalah beberapa Ibu kota  kabupaten, kecamatan atau pusat-pusat pemerintahan dan perekonomian yang berada di Jalu/Zona Patahan Sumatera:
  1. Kab. Pasaman : Baharu, Kota Napan, Sitomba, Tapus, Petok, Selibawan, Lubuk Sikaping, Bonjol,, Padang Sarai, 
  2. Kab. Agam : Palembayan, Kota Tinggi, Tarok, Koto Tuo
  3. Kota Bukit Tinggi --> Ngarai Sianok
  4. Kota Padang Panjang 
  5. Tanah Datar : Koto Baru, Malalo, Batu Taba
  6. Kab. Solok : Singkarak, Sumani, Danau Kembar, Alahan Panjang, Galagah, Bukik Gadang, Surian
  7. Kota Solok
  8. Kab. Solok Selatan : Pastalang, Muarolabuh, Alahan Badia, Liki

Tabel 1. Daftar Kabupaten pada zona ancaman/bahaya gempabumi tinggi pada Zona Patahan Sumatera. Wilayah Administrasi dan jumlah penduduk mengacu pada Sensus Penduduk 2010, BPS.
Patahan Sumatera.


Terdapat salah satu alinea dalam Deklarasi Padang 2005, dalam Konferensi Internasional Ancaman Gempabumi Sumatera yang perlu jadi perhatian, ”Saat ini, semua perhatian terpusat pada  potensi bahaya guncaang gempabumi dan tsunami  dari pecahnya megathrust di masa yang akan datang. Namun demikian, adalah penting bahwa masyarakat di Sumatera jangan mengabaikan risiko  yang ditimbulkan oleh patahan besar lainnya yaitu, Sesar Sumatera, yang melintas sepanjang jalur pegunungan (Bukit Barisan) mulai dari Teluk Semangko (Lampung) sampai ke Banda Aceh.Sebagai contoh, Banda Aceh akan lebih memiliki resiko terhadap pergerakan Sesar Sumatera  yang berada di daratan dibanding resiko dari  gempabumi  dan  tsunami disebabkan oleh megathrust yang berada di dasar laut. Dalam kasus tertentu ini, apakah akan mungkin terjadi gerakan tanah yang   diakibatkan oleh pecahnya/bergeraknya Patahan Sumatera dan seperti apakah kemungkinan peristiwa yang akan terjadi ? Juga, lokasi-lokasi yang spesifik dari Patahan Sumatera harus diketahui sedemikian rupa sehingga kegiatan pembangunan yang baru tidak akan ditempatkan pada jalur Patahan Sumatera tersebut.”

Harus ada tekanan publik agar kepala daerah yang daerahnya rawan gempa agar peduli terhadap perlunya bangunan aman gempa dan kawasan pemukiman aman longsor akibat gempa. Oleh karena itu perlua danya perubahan paradigma pemerintah daerah dalam penerpan pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB),  Selagi pemko/pemkab menganggap IMB sebagai objek PAD, sulit mengharapkan IMB yang sejatinya sebagai instrumen pembinaan, pangawasan, pengendalian bangunan.

Upaya peningkatan mitigasi dan pengurangan risiko bencana terkait gempabumi dan longsor di kawasan daratan Sumatera merupakan kebutuhan mendesak sehinga perlu dikerahkan segala upaya dan sumberdaya yang ada. Dalam program jangka panjang perlu dirancang dan diterapkan Road Map Rencana Aksi Mitigasi Ancaman Gempa Patahan Sumatera di seluruh wilayah Provinsi Sumatera Barat  dan Sumatera umumnya, meliputi beberapa program sebagai berikut:
  1. Penyusuna Skenario Daruruat Bencana dan Rencana Kontinjensi.
  2. Sosialisasi dalam rangka peningkatan public awareness dan penentuan kebijakan.
  3. Pelatihan, pendidikan, simulasi bagi aparat dan masyarakat.
  4. Review penataan ruang kawasan pemukiman dalam rangka mewujudkan kawasan yang aman terhadap gempabumi dan longsor.
  5. Relokasi pemukiman rawan longsor.
  6. perkuatan bangunan dengan teknologi tepat guna agar aman terhadap gempa.
  7. Perkuatan kelembagaan Nagari Tangguh Bencana dengan memperdayakan potensi kearifan lokal yang ada.
  8. Perkuatan Sumberdaya manusia dan peralatan deteksi dini, monitoring dan kendali operasi penanggulangan bencana.
  9. persiapan peralatan, bahan dan personel untuk penanganan darurat bencana
  10. Penyebaran rambu-rambu peringatan bahaya gempabumi dan longsor, leaftlet propaganda dan promosi siaga gempa dan longsor.
Kedepan sangat diharapkan keterlibatan semua pihak pemangku kepentingan, baik pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam upaya-upaya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana dalam rangka pengurangan risiko baik korban jiwa, kerugian materil, infrasutruktur maupun sektor-sektor lain yang mungkin akan mengganggu stabilitas perekonomian hingga politik dan kehidupan masyarakat secara umum.


(Tim BPBD Prov. Sumatera Barat, Juni 2013)

Pustaka:
  1. K. Sieh dan D. Hilman Natawijaya, Neotectonic of Sumatran Fault, 2000.
  2. Peta Bahaya Gempa Bumi Provinsi Sumatera Barat, UNDP, SC-DRR, Pemprov. Sumatera Barat, PT Waindo Specterra, 2011
  3. Sari dari berbagai sumber lain


Directing: Ir Ade Edward
Editting and  Map Layout : Yusra Agustin ST






Kamis, 13 Juni 2013

TANGGAPAN KEJADIAN GEMPA BUMI 12 JUNI 2013

Padang (13/06), Kejadian Gempa Bumi yang terjadi pada tanggal 12 Juni 2013 malam hari pukul 21.25.06 wib sempat membuat heboh masyarakat Sumatera Barat dan khususnya wilayah pantai pesisir barat Sumatera Barat karena pada hari-hari sebelumnya mereka juga merasakan goncangan gempa di seputaran wilayah yang sama yaitu pada tanggal 26 Mei 2013 pukul 18.20.02 wib. 

lokasi Gempa Mei dan Juni 2013

Terkait hal tersebut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Badan Geologi pada hari ini telah menyampaikan laporan tanggapan terjadinya gempa bumi di Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat kepada Gubernur Sumatera Barat serta BPBD Provinsi Sumatera Barat berdasarkan informasi yang diperoleh dari BMKG dan USGS serta data lainnya  :
  1.  Gempa Bumi terjadi pada hari Rabu, tanggal 12 Juni 2013 pukul 21.25.06 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,58 LS dan 100,52 BT, dengan magnituda 5,0 SR pada kedalaman 28 km, berjarak 29 km Baratdaya Pesisir Selatan - Sumatera Barat. Sedang menurut USGS pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,622 LS dan 100,580 BT dengan magnituda 4,8 Mw pada kedalaman 71 km, berjarak 29 km Selatan Painan.
  2. Kondisi Geologi daerah terkena gempa bumi: Pesisir Selatan dan sekitarnya tersusun oleh aluvium dan batuan vulkanik berumur Kuarter serta batuan sedimen berumur Tersier. Aluvium dan batuan vulkanik Kuarter mempunyai sifat lepas, urai, belum terkompaksi dengan baik dan bersifat memperkuat efek goncangannya gempa bumi.
  3. Penyebab gempa bumi :  Berdasarkan data posisi dan kedalaman pusat gempa bumi, diperkirakan gempa bumi ini dengan aktivitas zona subduksi di sebelah barat Pulau Sumatera.
  4. Dampak gempa bumi :  Berdasarkan informasi dari Pos Pengamatan G. Talang di Solok, gempa bumi ini terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 50 mm dan durasi 220 detik, gempa bumi ini dirasakan dengan intensitas II MMI. Sedangkan menurut informasi dari BMKG, gempa bumi dirasakan di Pariaman dengan intensitas IV MMI, di Padang dengan intensitas III - IV MMI, di Padang Panjang dengan intensitas II - III MMI, di Bukittinggi, Solok, dan Payakumbuh dengan intensitas II MMI. Sampai laporan ini dibuat belum dilaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan bangunan.
  5. Rekomendasi :
  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang energinya lebih kecil dari gempa utama.
  • Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, walaupun gempa bumi berpusat di laut, namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu tsunami.
Demikian isi laporan mengenai tanggapan Gempa Bumi Pesisir Selatan Sumatera Barat dari Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia - Badan Geologi tertanggal 13 Juni 2013.