Powered By Blogger

Rabu, 15 April 2015

STUDY BANDING KALIMANTAN TENGAH KE BPBD SUMBAR

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat, dalam 3 hari 13-15 April 2015 dikunjungi oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Dalam kunjungannya rombongan tersebut diterima oleh Plt. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sumatera Barat Ir. Zulfiatno, M.Sc didampingi  oleh para pejabat strukturalnya. Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan kaji banding baik dalam pengelolaan, penanganan dan pemberdayaan dari berbagai aspek antara pemerintah Kalimantan Tengah dengan pemerintah Sumatera Barat terkait penanggulangan bencana. Rombongan berjumlah 24 orang terdiri dari Komisi C DPRD Kalteng, Bappeda, Keuangan, Inspektorat BPBD Provinsi dan Kabupaten/ Kota. 

Rombongan diarahkan ke Pusdalops PB BPBD Sumbar yang berlokasi di Kecamatan Lubuk Kilangan Gedung UPT BNPB Regional Sumatera yang mana gedung tersebut merupakan gedung yang baru dibangun hasil kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Australia dalam bidang bantuan bencana. 

Ir. Zulfiatno, M.Sc membuka paparannya terkait dengan sejarah BPBD Provinsi Sumbar, letak geografis, potensi bencana, dasar dan produk hukum terkait, program-program kegiatan yang telah dilaksanakan dan rencana kedepan hingga tentang kesiapan EWS (early warning system bencana) hingga kekuatan personil serta logistik dan peralatan yang dimiliki provinsi dan daerah.
rombongan dari Provinsi Kalimantan Tengah disambut oleh BPBD Sumbar
(Gedung Pertemuan UPT BNPB Sumbar 13/4)

Pada sesi berikutnya pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang dipimpin oleh Asisten III bidang Kesra Setda Provinsi Kalimantan Tengah - Ketut Widi Wiratman sebagai ketua rombongan menjelaskan maksud dan tujuan dari kunjungan tersebut untuk melakukan kaji banding tentang kelebihan dan kekurangan sebagai bahan acuan bagi pemerintah provinsi Kalimantan Tengah dan juga memberi paparan tidak jauh beda dengan BPBD Provinsi Sumatera Barat. 

Pemerintah Kalimantan Tengah memiliki 13 kabupaten dan 1 kota dengan 137 kecamatan 138 kelurahan, dan 1.421 desa dengan kondisi 11 sungai besar 33 sungai kecil. Memiliki lahan gambut 3.010.640 Ha atau 19,60% dari luas wilayahnya yang juga merupakan ancaman bagi pemerintah berupa kebakaran/ bencana asap. Adapun potensi bencana yang sering terjadi di wilayah Kaltim berupa banjir, longsor, epidemik, kebakaran, puting beliung, kegagalan teknologi dan bencana sosial.

Untuk itu tujuan kunjungan ke Sumatera Barat, dikarenakan wilayah Sumatera Barat selain merupakan supermarket bencana juga telah memiliki pengalaman dalam menangani segala kondisi ancaman tersebut. Rombongan juga diajak melihat-lihat lokasi gudang logistik dan peralatan BPBD Provinsi Sumatera Barat, dan dihari berikutnya juga mengunjungi kantor BPBD Provinsi Sumatera Barat di Jl. Sudirman no. 47. (Gst)

Selasa, 14 April 2015

Sambaran Petir di Kabupaten Agam

Akibat cuaca buruk dalam beberapa hari ini, mengakibatkan satu rumah di Agam terkena sambaran Petir, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, tapi akibat dari sambaran petir seluruh peralatan elektronik yang tersambung dengan aliran listrik  menjadi rusak,belum di ketahui berapa nilai kerugian materil dalam kejadian ini ,(informasi  BPBD Kab.Agam)

Rabu, 08 April 2015

HUJAN LEBAT 5 DAERAH TERDAMPAK LONGSOR DAN PUTING BELIUNG

Puting Beliung malam hari
di Tanah Datar (7/4/2015)
Hujan lebat masih menyelimuti Sumatera Barat. Hari Selasa (7/4) hujan hampir merata terjadi ditiap daerah dari sore hingga malam hari. Terdapat  lima BPBD Kabupaten/ Kota hari ini (8/4) telah melaporkan kondisi daerahnya ke BPBD Provinsi Sumatera Barat. Dampak dari hujan lebat tersebut yang disertai angin kencang mengakibatkan terjadinya longsor dan beberapa pohon tumbang serta atap rumah yang terbangkan.

Kabupaten Tanah Datar melaporkan ruas jalan Gunung-Gunung yaitu penghubung Jorong Baruah dan Lubuk Gadang tertimbun longsor dan telah dilakukan pembersihan, pagi ini sudah bisa dilalui kembali. Sedangkan akibat terpaan angin kencang 2 rumah masyarakat Jorong Guguak Gadang dan Jorong Guguak Kaciak Nagari Padang Magek Kecamatan Rambatan diterbangkan bagian atapnya. Masyarakat tidak mengungsi namun segera melakukan pembenahan. 

penanganan longsor dan puting beliung
oleh petugas BPBD Kab. Tanah Datar (7/4/2015)

Kabupaten Solok hujan lebat berdampak pada 1 rumah milik Yulius Fidarnis mengalami rusak karena material longsor menghantam dinding rumahnya, badan jalan antara Guguak Bungo dan Sibarambang Kecamatan X Koto Diateh tertimbun longsoran yang menyebabkan jalan tidak bisa dilalui.

Kabupaten Padang Pariaman juga melaporkan sekitar pukul 22.30 wib terjadi longsor di Korong Kampung Parit Nagari Kubu Ganting Kecamatan V Koto Timur yang menyebabkan 1 rumah milik Nasirman 46 th mengalami rusak berat dengan taksiran kerugian 30 juta rupiah.

Di wilayah Kabupaten Agam paling banyak terdampak yaitu terjadi di 3 kecamatan sekitar pukul 20.00 wib mengalami banjir dan longsor. Kecamatan Palembayan Nagari Gumarang 1 rumah masyarakat, 2 ruko, dan 1 sekolah mengalami rusak ringan diterpa pusting beliung. Telah dilakukan gotong royong untuk pembersihan material longsoran tersebut. Kecamatan IV Koto mengalami banjir hingga sekitar 20 rumah atau 26 KK terendam dan mengungsi ketempat aman, 1 unit rumah mengalami rusak ringan. Malam itu setelah air surut masyarakat sudah kembali pulang. Selain itu juga terdapat 5 lokasi longsor yang menimbun ruas jalan diantaranya jalan kabupaten penghubung antara Ruko Sitijo dan Batang Sianok putus tertimbun longsoran sepanjang 40 meter, sore ini alat berat dari provinsi akan menuju lokasi gudang pembersihan material. Juga terdapat 8 titik longsor di IV Koto Matur namun telah dilakukan pembersihan oleh masyarakat, Pol PP, BPBD Agam dan Kepolisian. Ruas Jalan Koto Tinggi Baso yaitu batas antara Tanah Datar dan Agam juga tertimbun longsor sepanjang 30 meter dan juga bisa dilalui pada pagi hari ini setelah dilakukan pembersihan bersama-sama. Jalan Malalak mengalami longsor yang menurunkan bahu jalan setinggi 7 meter dengan panjang 20 meter. BPBD Kab. Agam, Kepolisian, Pol PP dan masyarakat dan dibantu dengan beberapa alat berat pada hari ini melakukan pembersihan material-material longsoran akibat hujan lebat yang mengguyur daerahnya.

Kota Sawahlunto melaporkan juga telah terjadi longsor sekitar pukul 21.00 wib akibat hujan lebat yang berdampak pada ruas jalan desa Lumindai kecamatan Barangin dengan ketinggian l5 meter yang mengisolir sekitar 650 jiwa. Terdapat juga kerusakan sekitar 4 rumah masyarakat mengalami rusak sedang. BPBD Kota Sawahlunto dengan TRCnya yang dilakukan bersama-sama masyarakat sekitar bergotong royong hingga hari ini untuk melakukan pembersihan material longsoran.

Hujan Lebat bisa saja terjadi hingga bulan April ini karena pengaruh cuaca ekstrim yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Kewaspadaan, kesiapsiagaan dari berbagai unsur masyarakat, pemerintah dan dunia usaha perlu ditingkatkan dalam menghadapi suasana seperti ini. (Gst)

Longsor di Kab. Padang Pariman

Telah terjadi longsor pada hari Selasa, tanggal 7 April 2015 pukul 22:30 wib di Korong Kampung Parit, Nagari Kudu Ganting, Kecamatan V Koto Timur Kab. Padang Pariaman. Longsor menimpa 1 unit rumah an. Nasirman/46 thn/Tanjung. Korban jiwa nihil, kerugian diperkirakan Rp 30.000.000,-

Senin, 06 April 2015

HUJAN LEBAT MENGAKIBATKAN AIR TERJUN LEMBAH ANAI MELUAP DAN JEMBATAN RUSAK

Lembah Anai 5/4/15
Hujan yang terjadi sejak sore hari menyebabkan Air Terjun di Lembah Anai Kabupaten 5/4/2015 meluap hingga memenuhi badan jalan di sekitaran jembatan. Luberan dan hantaman air mengakibatkan jembatan sedikit mengalamikerusakan atau berlobang. Para pengguna jalan yang terburu waktu harus nekat menerobos melintasi luapan yang sewaktu-waktu bisa membahayakan dirinya.

Hujan dengan intensitas sedang telah diperkirakan sebelumnya oleh BMKG akan terjadi di beberapa wilayah Sumatera Barat. Kota Padang, Solok, Pariaman, Padang Pariaman, Padang Panjang, Tanah Datar mengalami hujan sejak sore hari. Air Terjun Lembah Anai yang masih masuk wilayah Padang Pariaman setiap hujan lebat dalam jangka waktu 2 jam sering kali meluap hingga sampai ke badan jalan dan petugas beserta masyarakat setempat telah siap siaga dalam menghadapi hal demikian untuk mengarahkan para pengguna jalan agar selalu tetap berhati-hati. Saat kejadian sore ini kebetulan rombongan Bapak Gubernur Sumatera Barat beserta rombongan juga sedang melintas, melalui Akun Media Sosialnya menginformasikan Beliau malakukan pemantauan dengan berjalan kaki menyeberangi sungai dan melintasi jembatan rel Kereta Api bersama-sama dengan para pengguna jalan lainnya.

Bapak Gubernur Sumbar Irwan Prayitno saat memantau dan melintas di lokai Air Terjun Lembah Anai (5/4/15)

Kabid. Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Sumatera Barat (R. Pagar Negara) setelah mengonfirmasi dan memantau perkembangan melalui Pusdalops PB BPBD Sumatera Barat mendapatkan informasi pada pukul 22.00 wib, arus lalu lintas sudah mulai lancar meski padat merayap karena kebetulan masyarakat sedang menikmati liburannya. Air sudah mulai berangsur-angsur normal kembali sekitaran pukul 20.00 wib dan hujan juga mulai redah. 

R. Pagar Negara juga menghimbau kepada petugas, khususnya Satgas BPBD setempat agar selalu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan tindakan dini terutama di area perbukitan guna mencegah timbulnya korban dan juga bahaya longsoran. (Gst)

Sabtu, 24 Januari 2015

BANJIR DI KEC. IV JURAI PESSEL 3 ORANG DINYATAKAN HILANG

Kejadian Bencana Alam banjir di kecamatan IV Jurai Kab. Pesisir Selatan menyebabkan 3 orang hilang terbawa arus.

Kejadian tersebut berawal dengan terjadinya hujan intensitas sedang yang merata hingga mengakibatkan sekitar pkl. 17.00 wib ke tiga aliran batang sungai; Salido, Painan, dan Jalamu meluap hingga menggenangi rumah penduduk di wilayah 6 (enam) nagari; 

1. Painan Selatan 
2. Salido 
3. Bungo Pasang 
4. Tambang 
5. Koto Rawang, dan 
6. Salido Sari Bulan. 

Menurut Kasi. Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kab. Pesisir Selatan, berdampak sekitar 1.056 kk dr masyarakat ke enam nagari di ungsikan ke tempat lebih aman yg berlokasi di Masjid Agung kota Painan. 

Dalam kejadian tersebut BPBD Kab. Pesisir Selatan juga melaporkan terdapat korban jiwa yg hanyut saat ini yaitu 2 orang hilang berasal dari nag. Tambang, dan 1 orang dari nag. Koto Rawang. 

Korban selamat saat kejadian 1 org dr nag. Tambang serta 1 org dr nag. Koto Rawang. 

Pada pkl. 22.49 wib hujan mulai berangsur mereda dan ketinggian air sdh surut. PLN kembali normal, masyarakat yg mengungsi mulai kembali ke rumah masing masing. BPBD Provinsi Sumatera Barat terus memantau perkembangan dan berencana besok pagi 24/1/15 akan meninjau lokasi kejadian.

Pencarian kembali ke dua korban hanyut akan dilakukan kembali besok pagi bersama Tim SAR gabungan.

Sabtu, 18 Oktober 2014

BPBD PROVINSI SUMATERA BARAT MEMBUKA PENDAFTARAN CALON UNSUR PENGARAH PB SUMBAR

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat, pertama kali ini membuka kesempatan bagi masyarakat profesional yang memiliki keahlian khusus terkait bidang kebencanaan. 

Calon-calon ini akan ditempatkan pada posisi "Unsur Pengarah Penanggulangan Bencana" BPBD Provinsi Sumatera Barat. Unsur Pengarah tersebut sesuai struktur organisasi BPBD berada dalam naungan Kepala BPBD Prov. Sumbar yang mana salah-satu tugasnya adalah membantu Ka. BPBD untuk bersama-sama melakukan kajian, keputusan hingga diseminasi atas suatu kejadian kebencanaan. 


Struktur Organisasi BPBD Provinsi Sumatera Barat

Adapun persyaratan bagi Calon Pendaftar Unsur Pengarah PB BPBD Sumatera Barat ini, antara lain : 
  1. Warga Negara Indonesia; 
  2. Sehat jasmani dan rohani; 
  3. Berkelakuan baik; 
  4. Berusia paling rendah 30 (tiga puluh) tahun dan paling tinggi 60 (enam puluh) tahun pada saat pendaftaran;
  5. Memiliki wawasan kebangsaan; 
  6. Memiliki pengetahuan akademis dan pengalaman dalam penanggulangan bencana; 
  7. Memiliki integritas tinggi; 
  8. Non partisan; 
  9. Tidak berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil atau anggota TNI/Polri, kecuali dosen yang telah mendapat izin dari Pejabat yang berwenang; dan 
  10. Berdomisili di Ibukota Provinsi Sumatera Barat. 


Pendaftaran Calon Anggota Unsur Pengarah Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sumatera Barat dibuka mulai tanggal 13 Oktober sampai dengan 25 Oktober 2014.

Bagi peminat lowongan ini kepada calon pendaftar, untuk lebih jelasnya silahkan unduh "PENGUMUMAN CALON UNSUR PENGARAH" dan "FORM ISIAN PENDAFTAR CALON PENGARAH"

Rabu, 23 Juli 2014

Kesiapsiagaan Mudik Lebaran dan Daerah Rawan Bencana

Sehubungan dengan musim libur peringatan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1435 H yang bertepatan dengan Tahun 2014 Masehi, Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat menginformasikan kepada seluruh pihak terkait dan Masyarakat sebagai berikut :
1.     Analisis Cuaca Juli dan Agustus.
Berdasarkan laporan dari Badan Meterologi dan Geofisika (BMKG), Curah hujan Wilayah Sumatera Barat pada bulan Juli umumnya pada kisaran 151 – 300 mm (sedang) kecuali di kawasan Kota Pariaman- Kabupaten Padang Pariaman bisa mencapai 301 – 400 mm (tinggi). Sementara itu curah hujan pada bulan Agustus umumnya akan cenderung turun yaitu pada kisaran 101 – 150 mm (menengah).


Gambar  1. Prakiraan Curah Hujan Juli dan Agustus 2014. , sumber : BMKG.
Untuk tren sifat hujan pada bulan Juli cenderung di bawah normal hingga normal, kecuali di kawasan sekitar Kab. Sijunjung, Kab. Dharmasraya, Kota Sawahlunto, Kab. 50 Kota dan Kota Payakumbuh di atas normal sehingga perlu diwaspadai banjir dan longsor atau gerakan tanah pada kawasan yang kerentanannya tinggi. Sementara itu tren sifat hujan pada bulan Agustus   umumnya  di bawah normal,   kecuali  kawasan Kota Sawahlunto   dan   Kab. Sijunjung masih di atas normal. Kewaspadaan untuk banjir dan longsor masih perlu ditingkatkan untuk kawasan ini.

 Gambar  1. Prakiraan Sifat Hujan Juli dan Agustus 2014, sumber : BMKG.

2.     Daerah rawan bencana
Berikut adalah kawasan-kawasan yang perlu diwaspadai saat mudik dan libur Hari Raya, terutama saat curah hujan tinggi:
a.  Jalur Lalulintas rawan longsor di Sumatera Barat
No
Nama Lokasi
Peta
1
Tanjung Balit, 50 Kota
LGR1
2
Jalur Bukit Tinggi-Sipisang, Palupuh, Agam
LGR2
3
Jalur Talu (Pasaman Barat) –Panti (Pasaman)
LGR3
4
Kawasan Seputar Danau Maninjau, Agam
LGR4
5
Kawasan Kelok 9 hingga Ulu Air, 50 Kota
LGR5
6
Kawasan Lembah Anai, Padang Pariman – Padang Panjang
LGR6
7
Jalan Lintas Kota Padang – Solok, mulai dari Lubuk Paraku, Sitinjau Laut, Tanah Sirah hingga Lubuk Selasih
LGR7
8
Jalur antara Danau Kembar (Solok) dengan Muarolabuh, Surian-Air Dingin
LGR8
9
Beberapa titik di Jalur Teluk Bayur – Bungus  dan Padang-Painan, Kota Padang
LGR9
10
Jalan Lintas Sumatera antara Sungai Selasi  (Sungai Lasi, Solok) – Muaro Kalaban, Sawahlunto
LGR10
11
Tanjung Gadang, Sijunjung
LGR11
12
Muaro Takung, Dharmasraya
LGR12
13
Bawan, Agam
LGR13
14
Tanjung Bonai-Sumpur Kudus, Sijunjung
LGR14
15
Jalur Matur – Palembayan, Agam
LGR15
16
Jalur Alternatif Bukit Tinggi/Maninjau - Sicincin, lewat  Malalak, Agam
LGR16


Jalur Tanjung Bonai-Sumpur Kudus, Sijunjung (LGR14) dan Jalur Alternatif Bukit Tinggi/Maninjau - Sicincin, lewat  Malalak, Agam (LGR16) karena alasan kestabilan lereng dan kerawanan terhadap longsor sangat tidak disarankan untuk dilewati di saat hujan atau pasca hujan lebat.
b.  Jalur Lalulintas rawan banjir
No
Nama Lokasi
Simbol
Pada Peta
1
Pangkalan, 50 Kota
BJR1
2
Koto Baru, Dharmasraya
BJR2
3
Air Haji, Pesisir Selatan
BJR3
4
Bungus, Kota Padang
BJR4

c.   Daerah wisata pantai dan rawan gelombang pasang
No
Nama Lokasi
Simbol
Pada  Peta
1
Pantai Tiku, Agam
GLB1
2
Pantai Kata, Padang Pariaman
GLB2
3
Pantai Gandoria, Kota Pariaman
GLB3
4
Pantai Tiram, Padang Pariaman
GLB4
5
Pantai Padang, Kota Padang
GLB5
6
Pantai Air Manis, Kota Padang
GLB6
7
Pantai Bungus, Kota Padang
GLB7
8
Pantai Carocok, PESSEL
GLB8
9
Pantai Sasak, Pasaman
GLB9

3.   Perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan
Untuk menghindari segala kemungkinan buruk yang dapat ditimbulkan oleh bencana, maka kepada semua pihak dan masyarakat kami himbau supaya:
·   selalu waspada dan siaga terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi selama musim libur hari raya terutama yang berkaitan dengan ancaman bencana alam akibat cuaca ekstrim.
·      Bagi para pengguna kendaraan yang melalui jalan raya yang berpotensi longsor dan banjir agar meningkatkan kewaspadaan terutama saat intensitas dan curah hujan tinggi.
·      Jauhi daerah pantai saat cuaca buruk
·      Patuhi petunjuk petugas di lapangan.

Berikut langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh seluruh pihak terkait:
·   Meningkatkan koordinasi antar pemangku kepentingan dan pihak terkait.

· Menyiapkan posko bencana, petugas relawan dan peralatan yang diaktifkan 24/7 (24 jam sehari/7 hari dalam seminggu) disetiap titik rawan bencana dan titik pusat keramaian masyarakat.

·   Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang potensi bencana dan kesiapsiagaan.
(Tim Pusdalops PB)

Selasa, 08 Juli 2014

GEMPABUMI DAN TSUNAMI MEGA THRUST MENTAWAI MASIH MENGANCAM

Sebagaimana diinformasikan Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) dari media online dan Jaringan INATEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) bahwa telah terjadi gempabumi di Perairan Mentawai Provinsi Sumatera Barat dengan Magnitude 5,0 SR pada tanggal 1 Juli 2014, jam 04:58:54 WIB, pada posisi  -2,01 LS dan 99,14 BT, Kedalam 31 km. Berita senada juga disampaikan oleh Badan Geologi Amerika (USGS) dan Pusat Informasi Gempabumi Eropa dan Mediterania (EMSC) namun dengan nilai magnitude, kedalaman dan posisi yang sedikit berbeda dengan informasi BMKG. Sehubungan dengan informasi tersebut, hingga saat ini belum ada laporan korban maupun kerusakan dari gempa tersebut.

Secara geologis dan tatanan tektonik regional wilayah Indonesia bagian Barat, khususnya Sumatera dan Kep. Mentawai, daerah pusat gempa termasuk dalam Zona Mega Thrust Mentawai pada Jalur Subduksi Sunda (pertemuan Lempeng Samudera Hindia dan Lempeng Benua Eurasia). Jalur ini memanjang dari busur Kep. Andaman, Kep. Nias, Kep. Mentawai, Selatan Selat Sunda dan Selatan P Jawa hingga Peraiaran Arafuru di Indonesia Bagian Timur. Kawasan di sepanjang jalur tersebut memiliki catatan sejarah gempa-gempa besar dan peristiwa tsunami yang menelan korban ribuan hingga ratusan ribu jiwa seperti yang pernah terjadi di Aceh (2004) dan Pangandaran (2006).

Berdasarkan data gempa dari tahu 1900 hingga 2014, seperti halnya beberapa kawasan di sepanjnag jalur subduksi, Zona Methrust Mentawai termasuk zona seismic gap (daerah jarang gempa atau yang sudah lama tidak mengalami gempa besar). Menurut penelitian para ahli,  seismic gap pada Zona Mega Thrust Mentawai masih menyimpan potensi gempa dengan Magnitudo 8,9 SR. Kawasan ini pernah mengalami gempa besar pada tahun 1797 di wilayah Siberut dengan Magnitudo 8,7 – 8,9 SR dan pada tahun 1883 di wilayah Sipora dengan Magnitudo 8,9 – 9,1 SR, dengan periode ulang 200 – 300 tahun.

Peristiwa-peristiwa gempabumi di sepanjang jalur subduksi (Mega Thrust), di dalam zona seismic gap ditengarai merupakan suatu proses pecahnya “kuncian-kuncian” yang selama ini menghambat pergerakan tektonik pada zona aseismic tersebut, sehingga dengan berkurangnya  faktor-faktor pengunci akan memperbesar kemungkinan zona megathrust melepaskan seluruh energinya yang tersimpan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana dimana Gempa-gempa yang terjadi beberapa waktu belakangan mungkin akan mempercepat terjadinya gempa besar di kawasan tersebut yang dapat memicu terjadinya tsunami.

Dalam menyikapi informasi-informasi geologis tersebut, pemerintah daerah perlu mempersiapkan upaya-upaya mitigasi untuk pengurangan risiko bencana kaitannya dengan gempabumi dan tsunami di daerah-daerah terancam. Pembangunan dan penyiapan sarana dan prasarana mitigasi seperti jaringan peringatan dini bencana, jalur evakuasi vertikal dan horizontal,  dan tempat-tempat evakuasi sementara haruslah dipersiapkan segera. Disamping itu perkuatan kapasitas masyarakat melalui melalui sosialisasi, pendidikan pengurangan risiko bencana, pelatihan dan simulasi perlu ditingkatkan. Master Plan Pengurangan Risiko Bencana Gempabumi dan Tsunami yang telah dipersiapkan BNPB dari beberapa tahun yang lalu haruslah segera diimplementasikan secara tepat dan langsung mengarah pada wilayah-wilayah dan masyarakat yang akan terpapar bencana gempabumi dan tsunami.

Terkait dengan berita ini, Masyarakat yang berada di wilayah pesisir diharapkan tidak panik dan tetap meningkatkan kesiapsiagaan. Pengalaman gempabumi dan tsunami Aceh 2004, kesiapsiagaan masyarakat sangat penting di saat terjadinya bencana. Masyarakat P. Simeulue yang lekat dengan budaya "Smong" berhasil diselamatkan dari bencana gelombang tsunami, Sementara itu terjadi ratusan ribu korban di daratan Sumatera dan negara-negara di sekitar Samudera Hindia. Dengan demikian budaya siaga bencana haruslah selalu tertanam dalam diri individu masyarakat kita. Namun demikian pembentukan budaya siaga juga akan sangat tergantung pada peran pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan dan masyarakat serta pengaruh para tokoh masyarakat dalam memberikan arahan dan pengetahuan serta pembentukan mental siaga masyarakat.

(ysr)