Powered By Blogger

Kamis, 02 Agustus 2018

Kejadian Bencana Provinsi Sumatera Barat Tanggal 1 Agustus 2018

(02/08/18) Akibat Hujan deras dan Angin kencang yang terjadi pada tanggal 1 Agustus 2018 di wilayah Provinsi Sumatera Barat mengakibatkan terjadinya bencana pada beberapa daerah yaitu

Ø  Kabupaten Pasaman
A.     Lokasi dan Dampak Kejadian
ü  Terjadi bencana Angin Kencang pada hari Rabu tanggal 1 Agustus 2018 pukul 19.00 Wib pada Jorong Lundur & Jorong Lambak, Nagari Panti Timur, Kecamatan Panti  dengan dampak:
-       Rumah Rusak Ringan                   15 Unit
-       Rumah Rusak Sedang                   10 Unit
-       Rumah Rusak Berat                        2 Unit
-       Jumlah KK Terdampak                  27 KK

ü  Korban Jiwa:      Nihil

B.      Tindak Lanjut
-       Satgas BPBD Kabupaten Pasaman, PU, TNI, Polri,PMI, Tagana, Satpol PP & Masyarakat melakukan pendataan terhadap dampak kejadian yang terjadi
-       Untuk Masrakat dengan kondisi rusak berat telah didirikan tenda pengungsi sementara
-       BPBD Provinsi Sumatera Barat siap memberikan batuan logistik setelah adanya rekap kebutuhan buat korban terdampak dari BPND Kab. Pasaman
-       Informasi di peroleh dari BPBD Kabupaten Pasaman Pukul 18.15 wib (TRC-Pasaman An. Eri Koto)

Ø  Kabupaten Solok Selatan
A.     Lokasi dan Dampak Kejadian
ü  Terjadi bencana Angin Kencang pada hari Rabu tanggal 1 Agustus 2018 pukul 22.00 Wib pada Jorong Pampangan Nagari Pasia Talang Timur, Kecamatan Sungai Pagu  dengan dampak:
     -    Mengakibatkan 1 unit atap rumah warga rusak berat diterbangkan angin dengan data:
Nama                                    : Hadi Darto
Jumlah Jiwa Terdampak    : 3 Orang (1 Ibu Hamil & 1 Balita)

ü  Korban Jiwa:      Nihil

B.      Tindak Lanjut
-       Satgas BPBD Kabupaten Solok Selatan, Pemerintah Kecamatan & Nagari   telah melakukan pembersihan terhadap rumah warga yg dampak
-       BPBD Provinsi Sumatera Barat siap memberikan batuan logistik setelah adanya rekap kebutuhan buat korban terdampak dari BPND Kabupaten Solok Selatan
-       Informasi di peroleh dari BPBD Kabupaten Solok Selatan

Ø  Kabupaten Padang Pariaman
A.     Lokasi dan Dampak Kejadian
ü  Terjadi bencana Angin Kencang pada hari Rabu & Kamis tanggal 1 & 2 Agustus 2018 yang menyebabkan terjadinya pohon tumbang dengan lokasi:
-        Kecamatan VI Lingkung
·         Korong  Simpang, Nagari Gandur                   1 Rumah Terdampak
·         Korong Balah Air, Nagari Koto Tinggi 1 Rumah Terdampak
-        Kecamatan Nan Sabaris
·         Korong Pulau Air, Nagari Padang Bintuang    2 Rumah terdampak
-        Kecamatan Ulakan Tapakis
·         Korong Rambai, Nagari Padang Toboh           1 Rumah Terdampak
·         Korong Kabun, Nagari Tapakis                        1 Rumah Terdampak
-        Kecamatan Sintoga
·         Korong Toboh, Nagari Toboh Gadang 1 Rumah Terdampak
-        Kecamatan Lubuak Aluang
·         Korong Padang Baru, Nagari Lubuk Alung      1 Rumah Terdampak

ü  Korban Jiwa:      Nihil

B.      Tindak Lanjut
-   Satgas BPBD Kabupaten Padang Pariaman, Pemerintah Kecamatan & Nagari   telah melakukan pembersihan terhadap rumah warga yg dampak
-    BPBD Provinsi Sumatera Barat siap memberikan batuan logistik setelah adanya rekap kebutuhan buat korban terdampak dari BPND Kabupaten Padang Pariaman

-       Informasi di peroleh dari BPBD Kabupaten Padang Pariaman 

Rabu, 01 Agustus 2018

Rekapitulasi Kejadian & Dampak Bencana Periode Bulan Juli 2018

(1/8/2018) Berdasarkan dengan data kejadian bencana yang dimiliki oleh Pusdalops PB BPBD Prov. Sumatera Barat pada bulan Juli 2018, Pusdalops PB Sumbar mengeluarkan Info Grafis Sebagai berikut:

GEMPABUMI DIPICU SESAR AKTIF MENTAWAI KEMBALI MENGGUNCANG PAINAN DAN PADANG


Hari Rabu tanggal 01 Agustus 2018 gempabumi tektonik kembali mengguncang wilayah Painan dan Padang. Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempabumi terjadi pada pukul 03:28:56 WIB  dengan kekuatan M=4,8 Skala Richter dengan episenter terletak pada koordinat 1.83 LS dan 100.40 BT, 55 Km Baratdaya PESISIR SELATAN-SUMBAR, pada kedalaman 16 km.
Menurut laporan masyarakat gempabumi dirasakan di daerah Painan dan Padang dalam skala intensitas II SIG-BMKG (III-IV MMI). Pariaman, Solok dan Padang Panjang I SIG (II-III MMI).
Terkait dengan peristiwa gempabumi Painan yang baru saja terjadi, hingga laporan ini disusun belum terjadi aktivitas gempabumi susulan. Masyarakat dihimbau agar tetap tenang, dan terus mengikuti arahan BPBD dan BMKG. Khusus masyarakat di daerah pesisir pantai dihimbau agar tidak terpancing isu karena gempabumi yang terjadi tidak berpotensi tsunami.
Ditinjau dari kedalaman hiposenternya, gempabumi ini merupakan gempabumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif mentawai. Analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dipicu penyesaran mendatar (strike slip fault). Mekanisme sumber ini sesuai dan relevan dengan kondisi sesar Mentawai yang memiliki pergerakan mendatar di kedalaman 16 km di daerah tersebut.
Sesar Mentawai merupakan sesar aktif yang berlokasi di laut sekitar kepulauan Mentawai berjarak sekitar 150 km dari pantai barat Sumateta yang memanjang dari  pulau-pulau Mentawai dari Selatan hingga ke sekitar Utara Nias.
Historis gempabumi merusak yang pernah terjadi pada sesar aktif mentawai yang berdekatan pada lokasi tersebut yaitu gempabumi pada tanggal 2 Juni 2016 jam 05:56:02 dengan kekuatan M=6.5 yang menimbulkan kerusakan ringan di Painan dan dirasakan di Painan, Solok, Mukomuko, dan Sikakap Kep.Mentawai IV-V MMI, Padang, dan Sipora Kep. Mentawai IV MMI, Pariaman, Agam, Batusangkar dan Padang Panjang III-IV MMI, 50 Kota, Pasaman Barat, Sijunjung, Sungai Penuh dan Kerinci III MMI, Pasaman dan Pekanbaru II-III MMI .

Plt. Kepala Stasiun Geofisika Klas I Padang Panjang
Fajar Dwi Prasetyo, ST

Jumat, 20 Juli 2018

INSPEKTORAT BNPB CEK PERALATAN ALAT KOMUNIASI BPBD PROV.SUMBAR

 (20/7)Padang. Tim Inspektorat BNPB cek kondisi peralatan komunikasi bencana BPBD Prov. Sumbar. Dalam Kegiatan Tersebut Tim Inspektorat BNPB di dampingi oleh Kasubid Peralatan dan Logistik Beserta staf dan Operator peralatan Komunikasi.

Selasa, 17 Juli 2018

GEMPABUMI BUKITTINGGI AKIBAT AKTIFITAS SESAR SUMATERA





Selasa, pada pukul 07.02.34 WIB, masyarakat Bukittinggi, Padang Panjang dan sekitarnya dikejutkan dengan adanya goncangan gempabumi. Dari hasil analisa BMKG Stasiun Geofisika Padang Panjang diperoleh parameter gempabumi dengan kekuatan M=4.0 SR. Pusat gempabumi ini berada di darat pada koordinat 0,23 Lintang Selatan dan 100.37 Bujur Timur, sekitar 08 kilometer Utara BUkittinggi, pada kedalaman hiposenter 7 kilometer.

Berdasarkan laporan dari masyarakan goncangan tersebut dirasakan Bukittinggi IV MMI, Padang panajng III MMI atau II Skala Intensitas Gempabumi BMKG (SIG-BMKG)

Jika kita memperhatikan letak sumber gempabumi tersebut dengan kedalaman hiposenter yang dangkal ini mencirikan sebagai aktifitas sesar sumatera, khususnya segmen Sianok. Segmen Sianok memanjang dari sisi timur danau Singkarak melewati sisi Barat Daya Gunung Marapi hingga Ngarai Sianok, panjang segmen ini sekitar 90 km. Gempa terbesar pernah tercatat pada tanggal 4 agustus 1926 sebesar 6,8 SR, dengan pusat hancuran antara Bukittinggi dan Danau Singkarak, data terbaru mencatat bahwa 6 Maret 2007 terjadi dua kali gempabumi dengan magnitudo 6.4 SR dan 6.3 SR  dan juga gempabumi merusak pada segmen ini yang mengakibatkan kerusakan di Batusangkar, Padang Panjang dan Solok.
Segmen Sianok mempunyai kecepatan pergeseran 23 mm/tahun dengan tipe pergeseran strike-slip (mendatar)


Sehubungan dengan kejadian dua gempabumi disekitar Bukittinggi, masyarakat khususnya di sekitar Bukittinggi dihimbau agar tetap tenang dan selalu meningkatkan kewaspadaan bahwa gempabumi setiap saat dapat terjadi.


Plt. Kasgeof Padang Panjang
Fajar Dwi Prasetyo, ST

Senin, 16 Juli 2018

Abrasi Pantai Di Ulakan Kab. Padang Pariaman ancam 20 Unit Rumah warga tepi pantai



(16/7)Padang Pariaman. Telah terjadi Abrasi pantai di daerah Pantai Ulakan, Korong Kramat Jaya. Nag. Manggopoh Palak Gadang Ulakan, Kec. Ulakan Tapakis.
Dampak dari Abrasi Pantai tsb. Kurang Lebih 20 Unit Rumah Terancam Roboh dikarenakan Abrasi Pantai. untuk tindak lanjut TRC BPBD Kab. Padang Pariaman berkoordinasi dengan Wali Korong setempat. untuk informasi abrasi di mulai dari tanggal 15 juli 2018 dan berlangsung selama 6 hari menurut informasi dari warga sekitar tepi pantai Ulakan.
Sumber : BPBD Kab. Padang Pariaman

Direktorat Peralatan BNPB Cek Peralatan Gudang Peralatan & Logistik BPBD Prov. Sumatera Barat.



(16/7)Padang. Kunjungan dan cek peralatan oleh Direktorat Peralatan BNPB ke Gudang Peralatan dan Logistik BPBD Prov. Sumbar di dampingi oleh kasubid dan staf Peralatan dan Logistik BPBD prov.Sumbar.

Selasa, 03 Juli 2018

SETELAH BEBERAPA WAKTU LALU ACARA SERAH TERIMA SIRINE PERINGATAN DINI TSUNAMI DARI BMKG KE PEMERINTAHAN PROVINSI SUMATERA BARAT, TIM CEK ALAT PENGENDALI.




Padang (3/7) – BMKG, Kementrian Keuangan, Biro Aset Provinsi Sumatera Barat, serta BPBD Provinsi Sumatera Barat, mengecek peralatan pusat kendali sirine peringatan dini tsunami BMKG di ruangan Pusdalops-PB Sumbar pada hari Senin 2 Juli 2018 setelah acara serah terima Sirine Tsunami dari BMKG ke Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Sirine Tsunami secara teknis di Serahkan dari BMKG ke Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang sebelumnya telah diserahkan secara simbolis oleh Kepala BMKG Ibu Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, MSc. Phd, kepada Gubernur Sumatera Barat Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, S.Psi., M.Sc pada bulan desember tahun 2017 lalu.
Sirine tsunami yang dibangun BMKG dimaksud terletak pada 6 (enam) lokasi Kabupaten Kota se Sumatera Barat yaitu: Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Pasaman Barat. Sirine Tsunami ini merupakan sebuah sistem Peringatan Dini Tsunami (InaTEWS) mulai dari sistem monitoring, processing dan diseminasi atau penyebaran warning ke seluruh stake holder dan Pemerintah Daerah termasuk masyarakat.

Sesuai dengan amanat UU Penanggulangan Bencana No. 24 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana menyatakan bahwa perintah evakuasi bilamana adanya ancaman bencana khususnya tsunami menjadi tugas Kepala Daerah. Sedangkan BMKG sesuai UU No. 31 Tahun 2009 bertugas untuk memberikan Warning Peringatan Dini Tsunami. (Tim Redaksi)

Rabu, 03 Mei 2017



Prakiraan Wilayah Potensi Tejadi Gerakan Tanah Pada Bulan Mei 2017, yaitu :





http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gerakan-tanah/peringatan-dini-gerakan-tanah/1533-mei-2017


(Tmk)

Potensi dan Ancaman Bencana

Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan bencana antara lain:
Bahaya alam (natural hazards) dan bahaya karena ulah manusia (man-made hazards) yang menurut United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi (geological hazards), bahaya hidrometeorologi (hydrometeorological hazards), bahaya biologi (biological hazards), bahaya teknologi (technological hazards) dan penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation) Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kota/ kawasan yang berisiko bencana Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat

Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera ? Jawa - Nusa Tenggara ? Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).

Gempa bumi yang disebabkan karena interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan gelombang pasang apabila terjadi di samudera. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini, Indonesia sering mengalami tsunami. Tsunami yang terjadi di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya (Puspito, 1994). Selama kurun waktu 1600?2000 terdapat 105 kejadian tsunami yang 90 persen di antaranya disebabkan oleh gempa tektonik, 9 persen oleh letusan gunung berapi dan 1 persen oleh tanah longsor (Latief dkk., 2000). Wilayah pantai di Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana tsunami terutama pantai barat Sumatera, pantai selatan Pulau Jawa, pantai utara dan selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Irian Jaya dan hampir seluruh pantai di Sulawesi. Laut Maluku adalah daerah yang paling rawan tsunami. Dalam kurun waktu tahun 1600?2000, di daerah ini telah terjadi 32 tsunami yang 28 di antaranya diakibatkan oleh gempa bumi dan 4 oleh meletusnya gunung berapi di bawah laut.

Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur. Sebaliknya, kondisi itu dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Seiring dengan berkembangnya waktu dan meningkatnya aktivitas manusia, kerusakan lingkungan hidup cenderung semakin parah dan memicu meningkatnya jumlah kejadian dan intensitas bencana hidrometeorologi (banjir, tanah longsor dan kekeringan) yang terjadi secara silih berganti di banyak daerah di Indonesia. Pada tahun 2006 saja terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang di Jember, Banjarnegara, Manado, Trenggalek dan beberapa daerah lainnya. Meskipun pembangunan di Indonesia telah dirancang dan didesain sedemikian rupa dengan dampak lingkungan yang minimal, proses pembangunan tetap menimbulkan dampak kerusakan lingkungan dan ekosistem. Pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam (terutama dalam skala besar) menyebabkan hilangnya daya dukung sumber daya ini terhadap kehidupan mayarakat. Dari tahun ke tahun sumber daya hutan di Indonesia semakin berkurang, sementara itu pengusahaan sumber daya mineral juga mengakibatkan kerusakan ekosistem yang secara fisik sering menyebabkan peningkatan risiko bencana.

Pada sisi lain laju pembangunan mengakibatkan peningkatan akses masyarakat terhadap ilmu dan teknologi. Namun, karena kurang tepatnya kebijakan penerapan teknologi, sering terjadi kegagalan teknologi yang berakibat fatal seperti kecelakaan transportasi, industri dan terjadinya wabah penyakit akibat mobilisasi manusia yang semakin tinggi. Potensi bencana lain yang tidak kalah seriusnya adalah faktor keragaman demografi di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2004 mencapai 220 juta jiwa yang terdiri dari beragam etnis, kelompok, agama dan adat-istiadat. Keragaman tersebut merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain. Namun karena pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak diimbangi dengan kebijakan dan pembangunan ekonomi, sosial dan infrastruktur yang merata dan memadai, terjadi kesenjangan pada beberapa aspek dan terkadang muncul kecemburuan sosial. Kondisi ini potensial menyebabkan terjadinya konfl ik dalam masyarakat yang dapat berkembang menjadi bencana nasional.