Powered By Blogger

Sabtu, 12 Desember 2015

Kota Solok; Banjir Menggenangi Rumah, Masyarakat Diungsikan

Solok 11/12, Curah hujan yang cukup lebat merata terjadi di wilayah Sumatera barat, termasuk di wilayah Solok. Pantauan Satgas Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Sumatera Barat, hujan yang terjadi pada hari Jumat tanggal 11 Desember 2015, berdurasi sekitar 2 jam dan sebelumnya pada sore hari juga terjadi hujan lebat selama 1.5 jam. Dampak dari cuaca ekstrim beberapa daerah mengalami banjir berupa genangan atau luapan seperti halnya di wilayah Solok tersebut.

Pusdalops BPBD Sumbar kembali menjelaskan, laporan yang bersumber dari Hari Siswanto, Satgas TRC BPBD Kota Solok, bahwa sekitar pukul 20.00 wib terjadi banjir dibeberapa wilayah pada malam itu. Satgas gabungan bersama dengan Relawan telah mengungsikan masyarakat terdampak ke tempat lebih aman, daerah-daerah yang mengalami banjir diantaranya; di Kelurahan Nan Balimo Kecamatan Tanjung Harapan sebanyak 2 kk dengan 11 jiwa. Kecamatan Lubuk Sikarah Tanah Garam sekitar 43 kk dengan 159.



Longsor terjadi sekitar pukul 05.30 wib di daerah Payo Kelurahan Tanah Garam Kecamatan Lubuk Sikarah menimpa 1 rumah yang dihuni 1 kk dengan 4 jiwa. Selain itu juga terdapat pohon tumbang yang menimpa dinding pagar Madrasah Tsanawiyah di Kota Solok tersebut.

BPBD Kota Solok malam hari itu telah menurunkan personilnya yang di komandoi langsung oleh Kepala Pelaksana, Ori Offilo dan didampingi para Kasi, serta instansi lainnya seperti; PMI, Tagana, Polres serta relawan yang bersama-sama membantu mengevakuasi masyarakat terdampak. 

Hari Siswanto kembali menerangkan, pada pagi ini Sabtu 12/12 petugas telah memberikan bantuan kebutuhan dasar seperti; sarapan pagi, tikar, selimut terhadap masyarakat terdampak kejadian semalam. (Gst)
 

Jumat, 11 Desember 2015

Tanggapan Bencana Gerakan Tanah Kec. Payakumbuh, Kab. Limapuluh Kota Provinsi Sumatera Barat

Tanggapan bencana gerakan tanah di Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, berdasarkan pemberitaan media www.riaupos.co.id hari Senin, 30 November 2015, sebagai berikut :
1. Lokasi dan waktu kejadian:
    Gerakan tanah terjadi di daerah pemukiman, Jorong Pabatungan, Nagari Taeh Bukik, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Bencana tersebut terjadi pada hari minggu, tanggal 29 November 2015.
    2. Jenis gerakan tanah:
      Jenis gerakan tanah diperkirakan berupa rayapan. Pergerakan tanahnya merusak daerah pemukiman.
      3. Dampak gerakan tanah:
        • 20 rumah rusak.
        • 156 kepala keluarga mengungsi.
        4. Kondisi daerah bencana :
          • Secara umum sekitar lokasi bencana merupakan daerah pegunungan dengan kemiringan lereng landai sampai agak terjal. Elevasi lokasi bencana sekitar 600 meter di atas permukaan laut.
          • Berdasarkan Peta Geologi Lembar Solok, Sumatera (Silitonga dan Kastowo, Puslitbang Geologi, 1995), daerah bencana tersusun oleh batuan Formasi Brani, terdiri dari Konglomerat dengan sisipan batupasir (Tob); Batuan Anggota Filit dan Serpih Fromasi Kuantan, terdiri dari serpih dan filit, sisipan batusabak, kuarsit, batulanau, rijang dan aliran lava (PCks). Serta Batuan Andesit sampai Basal (Ta), Aliran lava, breksi, aglomerat.
          • Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Desember 2015 di Provinsi Sumatera Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Payakumbuh termasuk zona potensi gerakan tanah menengah-tinggi artinya daerah yang mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Pada zona ini gerakan tanah lama dapat aktif kembali.
          5. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan:
            • Hujan deras yang turun dalam waktu lama sebelum dan pada waktu kejadian gerakan tanah.
            • Tanah fisik batuan dan tanah pelapukan yang tebal, bersifat gembur, sarang dan jenuh air saat hujan turun.
            • Tebing yang terjal.
            • hujan tidak meresap ke dalam tanah dan membuat jenuh tanah penyusun tebing.
            • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
            • Menutup retakan dengan tanah liat yang dipadatkan, agar air hujan tidak masuk ke dalam tanah.
            • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.
            Gambar Peta Prakiraan Wilayah Potensi terjadi Gerakan Tanah
            Provinsi Sumatera Barat Bulan Desember 2015



            Sempat Terjadi Kemacetan Selama 8 Jam, Longsor di Pangkalan Limapuluh Kota

            Hujan lebat yang mengguyur hampir di seluruh wilayah Sumatera Barat selama empat jam pada hari kamis (10/12) dari pukul 16.00 wib hingga pukul 20.00 wib mengakibatkan longsor di desa Manggilang Kecamatan Pangkalan Koto Baru kabupaten Limapuluh Kota.
            Dilaporkan oleh Rahmadinol, Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Limapuluh Kota, satgasnya menginventarisir sebanyak 11 titik longsoran, diantaranya terdapat 5 titik longsor terpapar sepanjang 30 - 50 meter menutup badan jalan yang menghubungkan Sumatera Barat - Pekanbaru begitu sebaliknya. Selain itu terdapat satu unit rumah warga milik Linda (44th) tertimpa longsoran, dan 3 unit kendaraan bermotor roda empat juga ikut tertimpa material longsoran. 1 orang mengalami luka ringan dalam kejadian itu, imbuh Rahmadinol.
            Longsor menghambat badan dan sempat terjadi kemacetan selama 8 jam. Evakuasi dan pembersihan telah diupayakan pada saat itu oleh Dinas PU yang dibantu dari instansi terkait seperti BPBD Kab. Limapuluh Kota, Polri serta masyarakat setempat. Sekitar pukul 03.00 wib (11/12) jalan penghubung Sumatera Barat - Pekanbaru sudah bisa dilewati kembali.
            BMKG telah memprediksi puncak hujan akan terjadi di Sumatera Barat pada bulan Nopember 2015, dan berakhir di bulan Desember 2015. Selama itu menurut dinas ESDM juga mengutarakan terdapat beberapa wilayah yang telah di petakan di Sumatera Barat akan mengalami potensi pergerakan tanah dalam kategori sedang hingga tinggi, dan juga berpotensi banjir pada bulan-bulan tersebut.
            Hujan hingga saat ini masih sering terjadi dengan intensitas sedang dan lebat, untuk itu perlu adanya peningkatan kesiapsiagaan dan kewaspadaan bagi aparatur serta potensi masyarakat untuk meminimalisir kerusakan dan korban jiwa. (Gst)

            Minggu, 15 November 2015

            Marapi Keluarkan Abu Vulkanik, Masyarakat Jangan Panik

            Padang Panjang 15/11, Gunungapi Marapi Sumatera Barat mengeluarkan abu vulkanik pada malam hari Sabtu sekitar pukul 22.33 wib. Lontaran abu vulkanik tersebut secara visual tidak terpantau.

            Menurut Ketua Pos Gunung Api (PGA) Marapi - Bukittinggi, Warseno mengatakan saat terjadi erupsi arah angin menuju ke baratdaya dan daerah yang terimbas abu vulkanik di daerah Panyalaian - Kota Padang Panjang. "Erupsi yang terjadi pada malam hari tersebut tergolong cukup besar, semenjak Marapi ditetapkan dalam status "Waspada" empat tahun yang lalu (3 Agustus 2011), katanya.

            Warseno kembali menghimbau kepada masyarakat dan juga bagi para pendaki agar tetap menjauh pada radius 3 km dari arah puncak Marapi. Untuk aktivitas vulkanik dari pagi hingga sore hari ini masih terlihat normal, tidak ada pergerakan.

            Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops PB) BPBD Sumatera Barat juga menghimbau kepada masyarakat yang berada dalam zona gunungapi Marapi ini, agar tidak panik atau khawatir terhadap aktifitas gunungapi Marapi dan untuk tetap melakukan kegiatan seperti biasanya. Dan jika terjadi kenaikan status, baik satgas dari PVMBG dan BPBD setempat akan segera menginformasikannya. (Gst)

            Senin, 09 November 2015

            Longsor Menimpa 2 Kecamatan di Kabupaten Agam




            Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam menyampaikan 2 daerah terlanda longsor sejak sore tadi (9/11/2015), kejadian tersebut terjadi di wilayah kecamatan Baso dan kecamatan Palupuh. Dipastikan tidak adanya korban jiwa dalam kejadian tersebut.

            Kepala Pelaksana BPBD Agam, Bambang Warsito membenarkan kejadian tersebut. Longsor akibat hujan deras selama beberapa jam telah mengakibatkan turunnya material dari tebing. 

            Seperti halnya di Jorong Mudik Palupuh Nagari Koto Rantang Kecamatan Palupuh, 1 rumah warga tertimbun, serta menutup jalan propinsi yang menghubungkan antara Medan dengan Bukittinggi. Saat ini terjadi kemacetan sepanjang 1 km di lokasi.  “Petugas BPBD dan PU telah berada di lokasi untuk membuka akses jalan”, katanya.


            Petugas Pusat Pengendalian Operasi BPBD Kabupaten Agam, juga melaporkan kejadian terjadi sekitar pukul 18.00 wib disaat hujan dengan intensitas sedang melanda wilayah Kabupaten Agam. Daerah yang terdampak akibat longsor terebut selain terjadi di kecamatan Palupuh, juga terjadi di Jorong Simarasok Nagari Simarasok Kecamatan Baso, yang menyebabkan 1 buah rumah dihuni sebanyak 2 KK milik N. Nasri (35 th) tertimpa material longsoran yang mengenai 2 kamarnya. SD 21 Simarasok juga terkena longsoran di bagian dinding pagar, tidak jauh dari lokasi longsor juga menimpa saluran irigasi Dt. Kodoh di Jorong Sungai Angkek Nagari Simarasok.

            Hingga saat ini Petugas bersama dengan masyarakat sejak sore tadi telah bergotong royong untuk membersihkan material longsoran, ujar  Satgas Pusdalops BPBD Agam yang dihubungi Pusdalops BPBD Sumbar via seluler. (Gst)

            Rabu, 07 Oktober 2015

            Tanggapan Gempa Pasaman Barat 5.3 SR, 6 Oktober 2015

            TANGGAPAN GEMPA PASAMAN BARAT, SUMATERA BARAT
            5.3 SR - 6 OKTOBER 2015.
            (Badan Geologi - PVMBG) 

            Bersama ini kami sampaikan tanggapan kejadian gempabumi di Baratdaya Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan United States Geological Survey (USGS), sebagai berikut :
            1. Gempabumi terjadi pada hari Selasa, tanggal 6 Oktober 2015, pukul 15:44:13 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 0,54°LS dan 98,84°BT, dengan magnitudo 5,3 SR pada kedalaman 65 km, berjarak 136 km Baratdaya Pasaman Barat, Sumatera Barat. Sedangkan menurut USGS, pusat gempa bumi berada pada koordinat 0,529°LS dan 98,943°BT dengan magnituda 4,9 Mw pada kedalaman 43,1 km.
            2. Kondisi Daerah Terkena Gempabumi: Wilayah Pesisir Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat  pada umumnya disusun oleh endapan Kuarter berupa endapan rawa, endapan pantai, endapan aluvial, endapan rombakan gunungapi, endapan Tersier dan Pra Tersier yang telah mengalami pelapukan. Endapan – endapan tersebut bersifat urai, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek goncangan (amplifikasi) sehingga rentan terhadap goncangan gempabumi.
            3. Penyebab Gempabumi: Sumber gempabumi diperkirakan berasal dari aktivitas zona subduksi di sebelah barat Pulau Sumatera yang terbentuk akibat tumbukan antara Lempeng Eurasia dan Hindia – Australia. 
            4. Dampak Gempabumi: Hingga tanggapan ini dibuat belum ada laporan mengenai kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi ini. 
            5. Rekomendasi:
            • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dan informasi dari pemerintah daerah setempat, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab tentang gempa bumi dan tsunami
            • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil
            • Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena walaupun gempabumi berpusat di laut, namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu tsunami.

            Rabu, 30 September 2015

            Catatan Kualitas Udara Sumbar Bulan September

            Padang 30/9, Catatan Pusdalops PB BPBD Sumatera Barat, kualitas udara PM10/ kadar partikel debu di wilayah Sumatera Barat di bulan September 2015 terkait ancaman kabut asap akibat pembakaran lahan dan hutan, grafisnya fluktuaktif atau berubah-ubah.

            Di hari pertama (1/9/15) sempat dalam kategori "Tidak sehat" dan kembali turun ke "Sedang" selama 16 hari. Namun kembali naik selama dua hari pada tanggal 18/9/15 dari "Tidak Sehat" hingga "Sangat Tidak Sehat" dan turun kembali dalam kategori "Sedang" hingga pada hari ke 29.

            data kualitas udara tanggal 1-30 sept 2015
            (diambil dr BMKG Kototabang Sumbar)
            Hari ini 30/9/15, kualitas udara Sumatera Barat naik level ke "Tidak Sehat". Menurut informasi Satgas Pusdalops yang di dapat dari hasil koordinasi dengan SKPD terkait, bahkan di Dharmasraya saat ini kualitas udara yang terjadi di daerahnya mencapai 400-600 mikrogram per meter kubik. Sehingga mereka yang sebelumnya telah melaksanakan Darurat Kabut Asap hingga berakhir selama 14 hari, terpaksa memperpanjang kembali status tersebut hingga 14 hari lagi. 

            grafik kualitas udara dari tanggal 1 - 30 Septe 2015
            Pusdalops PB Sumbar kembali menerangkan, Dharmasraya saat ini meliburkan sekolah siswa/siswinya, sambil melihat kondisi hingga hari senin depan, jika kondisi ini masih berlanjut maka akan terpaksa meliburkannya kembali.

            Untuk jarak pandang di kota Padang, secara visual terpantau kurang dari 1 km dan untuk penerbangan di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) masih dalam kondisi aman dengan jarak pandang dari permukaan lintasan 4.000-5.000 meter. (gst)

            Review Gempabumi Sumatera Barat 30 September 2009 Sebagai Upaya Mitigasi Bencana

            BMKG 30/9/15, Hari ini 6 (enam) tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 30 September 2009 pukul 17:16:09 WIB seluruh wilayah Sumatera Barat merasakan guncangan gempabumi yang sangat kuat, guncangan yang disebabkan oleh gempabumi tersebut juga dirasakan di kota-kota Sumatera lainnya, bahkan guncangan tersebut terasa sampai ke Singapura, Malaysia, Thailand dan juga di Jakarta dengan intensitas III MMI. Gempabumi dengan kekuatan 7.9 SR dengan kedalaman 71 km dan pusat gempa pada 0.84 LS – 99.65 BT ini kurang lebih sekitar 57 Km Barat Daya Pariaman, Sumatera Barat, gempa ini telah memporak-porandakan hampir seluruh wilayah Sumatera Barat khususnya wilayah pantai Barat Sumbar.

            Melihat hasil peta guncangan (shakemap) yang diakibatkan oleh gempabumi tanggal 30 September 2009, maka intensitas guncangan gempa yang sangat kuat terjadi di Pariaman, Agam, Padang dengan intensitas VIII MMI, berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity merupakan skala ukuran kerusakan akibat gempabumi berdasarkan pengamatan efek gempabumi terhadap manusia, struktur bangunan, lingkungan pada suatu tempat tertentu maka intensitas pada skala VIII MMI ini dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan yang tidak kuat , kerusakan ringan pada bangunan-bangunan dengan konstruksi yang kuat, retak-retak pada bangunan yang kuat, dinding dapat terlepas dari kerangka rumah, sedangkan kota-kota di Sumatera Barat lainnya dengan intensitas VI-VII MMI antara lain di Bukit Tinggi, Padang Panjang,Pasaman, Pasaman Barat, Batu Sangkar, Solok, Solok selatan, dan Pesisir Selatan. Gempabumi tersebut telah menyebabkan sedikitnya 1100 orang meninggal, 2180 orang luka-luka dan 2650 bangunan rumah rusak berat/ringan termasuk gedung-gedung kantor, sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, pasar, jalan, jembatan dengan kerusakan paling parah sepanjang pantai Barat Sumatera Barat juga telah menyebabkan jaringan listrik dan komunikasi terputus, sebagian besar korban disebabkan karena tertimpa reruntuhan bangunan dikarenakan kontruksi bangunan yang tidak aman,akibat gempa juga terjadi eksodus besar-besaran warga yang tinggal disekitar pantai ke tempat lain karena adanya isu akan datangnya gelombang tsunami.

            Gambar 1. Waveform gempabumi tanggal 30 September 2009 dari seismograph SPS-3 yang pasang di Padang Panjang, menunjukkan amplitudo max offscale
            Wilayah barat pulau Sumatera merupakan salah satu kawasan yang terletak pada pinggiran lempeng aktif dunia hal ini dapat dilihat pada tingginya kejadian gempabumi diwilayah ini karena wilayah ini adalah daerah pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dengan lempeng tektonik Eurasia. Sumber gempa di wilayah ini tidak hanya bersumber dari pertemuan lempeng tektonik tersebut tetapi juga dikarenakan adanya sesar Mentawai (Mentawai Fault System) dan sesar Sumatera (Sumatera Fault System). Dengan adanya 3 (tiga) sumber gempabumi tersebut menambah kompleknya tektonik wilayah Sumatera dan menyebabkan wilayah Sumatera merupakan daerah yang rawan terhadap Gempabumi.

            Berdasarkan katalog gempabumi merusak BMKG, ke-tiga sumber gempabumi di Sumatera tersebut, baik gempabumi yang terjadi di Subduksi, sesar Mentawai dan sesar Sumatera telah menyebabkan kerusakan bangunan dan juga korban jiwa, yaitu dimulai pada tahun 1926 gempabumi terjadi disekitar danau Singkarak yang menyebabkan 354 orang meninggal dunia, kejadian gempabumi selanjutnya berturut-turut terjadi pada tahun 1977, 1979, 1993, 1994, 1995, 1998, 2004, 2005, 2007, 2008, 2009 dan 2010. Beberapa gempabumi tersebut disamping menyebabkan kerusakan bangunan juga menimbulkan tsunami.

            Kini setelah 6 tahun berlalu kejadian itu masih teringat pada sebagian besar masyarakat Sumatera Barat karena disamping diantaranya menjadi korban reruntuhan bangunan yang disebabkan oleh gempabumi juga sebagian dari mereka kehilangan keluarga dan harta bendanya dan mereka juga masih trauma dengan kejadian gempabumi 30 September 2009. Mengingat wilayah Sumatera merupakan wilayah yang rawan terjadinya gempabumi dimana gempabumi juga mempunyai return periode kejadiannya maka dengan melihat kembali sejarah kejadian gempabumi dimasa lalu dapat meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya pemahaman tentang gempabumi, mengetahui daerah-daerah rawan gempabumi, respon atau tindakan sebelum,sesaat dan setelah terjadinya gempabumi haruslah dipahami dan yang penting adalah sosialisasi yang menerus kepada masyarakat tentang ancaman bahaya gempabumi serta sosialisasi dari pemerintah pusat/daerah dan juga lembaga swadaya masyarakat tentang pentingnya kontruksi rumah aman gempa pada daerah rawan gempa, sedangkan masyarakat yang tinggal didaerah pantai disamping memahami hal tersebut diatas juga mengetahui jalur-jalur evakuasi yang sudah ada disetiap wilayah perkampungan, juga meningkatkan kesadaran tentang pentingnya melakukan evakuasi sesegera mungkin sesaat setelah merasakan guncangan gempabumi yang kuat untuk menjauh dari pantai mencari tempat-tempat yang tinggi.

            (dikutip dari: BMKG Padang Panjang)

            Senin, 21 September 2015

            Belum Saatnya "Darurat Asap" bagi Sumatera Barat

            Padang 21/9, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat belum menyatakan "Darurat Asap". Kualitas Udara wilayah Sumatera Barat belum membahayakan dan belum berdampak serius; bagi kesehatan, sosial, bahkan perekonomian masyarakat Sumatera Barat. Hal ini disampaikan dalam hasil rapat koordinasi pada Sabtu 19/9 dengan jajaran SKPD penanggulangan bencana terkait dampak dari maraknya pembakaran hutan dan lahan di provinsi tetangga.

            Dalam rapat yang dilaksanakan di kantor Pusat Pengendalian Operasi penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Sumbar tersebut, hadir Kepala BMKG Bandara BIM, Kepala Bidang dari Bapeldalda, Satgas Pusat Penanggulangan Krisis Dinas Kesehatan,  Kelaksa BPBD Sumbar beserta Kabid. Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Kabid. Kedaruratan dan Logistik serta kalangan pers.

            Plt. Kepala Pelaksana BPBD Sumbar, Zulfiatno menjelaskan hasil keputusan bersama dalam rapat tersebut, Bahwa kabut asap yang menyelimuti saat ini baru membawa potensi ancaman, untuk itu BPBD Sumbar tetap melaksanakan koordinasi dengan berbagai SKPD guna melakukan pantauan dan kesiapsiagaannya. Diakui bahwa masyarakat saat ini telah resah, dari pantauan visual jarak pandang antara 500 hingga 1.500 meter, bahkan beberapa kabupaten atau kota ada yang telah meliburkan anak didiknya. Namun asap ini belum dalam kategori membahayakan. Dalam pengamatan dari berbagai jajaran seperti BMKG, Bapedalda serta Dinas Kesehatan pada intinya kualitas udara masih fluktuatif yaitu masih bergerak berubah-ubah antara kategori sedang-tidaksehat-sangat tidak sehat dan turun kembali ke-sedang. Jarak pandang di bandara Minangkabau BIM diatas 1.500 meter dan masih bisa melakukan aktifitas penerbangan. Penyakit sesak napas atau ISPA masih belum dalam kategori Kejadian Luar Bisa. 

            Zulfiatno kembali menjelaskan, kami belum memutuskan untuk melaksanakan "Darurat Asap" seperti halnya provinsi-provinsi lain seperti pekanbaru, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, karena dampaknya belum berbahaya, serta titik api dari Karlahut di Sumbar juga hampir tidak ada, hanya sedikit dan itu cepat diatasi oleh masing-masing daerah.

            BPBD Sumatera Barat juga juga telah mengerahkan personil serta kebutuhan peralatan dan logistiknya dalam upaya pencegahan tidak hanya masalah kabut asap, namun juga masalah dampak kekeringan seperti di kabupaten Dharmasraya. Kekeringan saat ini melanda masyarakat Dharmasraya sehingga pemerintahan setempat memberlakukan "Tanggap Darurat Kekeringan" selama 14 hari. Tim saat ini beroperasi untuk mendistribusikan air bersih terhadap masyarakat daerah terdampak tersebut.

            Dari informasi prakiraan potensi hujan BMKG, wilayah Sumatera dan Sumatera Barat pada khususnya, diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas ringan-sedang terjadi di awal-awal oktober 2015 dan mencapai puncaknya pada bulan Desember 2015. Ini dapat menjadi pedoman bagi wilayah Sumatera Barat dalam melakukan segala kegiatan serta mempersiapkan segala sesuatunya terutama terhadap timbulnya ancaman bencana lainnya seperti, banjir dan longsor.

            Sumatera Barat adalah supermarketnya bencana. Upaya-upaya Kesiapsiagaan, Peringatan dini serta mitigasi selalu rutin dilaksanakan oleh petugas kebencanaan. Salam Tangguh. (Gst)