Minggu, 03 Februari 2013

TINJAUAN LONGSOR JORONG DATAR KAMPUNG DADOK, NAGARI SUNGAI BATANG, KECAMATAN TANJUNG RAYA, KABUPATEN AGAM, PROVINSI SUMATERA BARAT



I.          Wilayah Administrasi  Kesampaian Lokasi
Daerah Longsor terletak di Jorong Datar Kampung Dadok, Nagari Sungai Batang, Kecamatan  Tanjung Raya, Kanupaten Agam, Provinsi sumatera Barat. Dari Lubuk Basung dapat ditempuh dengan jarak  + 40 km ke arah Tenggara selama 1 jam perjalan atau 30 km sebelah Barat Daya  Kota Bukit Tinggi selama 45 menit perjalanan.

  Peta lokasi longsor Jorong Datar Kampung Dadok, Nagari Sungai Batang, Kecamatan  Tanjung Raya, Kanupaten Agam, Provinsi sumatera Barat.

II.        Gambaran Umum Wilayah
a.    Topografi
Daerah longsor Berada di  sisi Tenggara Danau Maninjau, pada lembah perbukitan di  kaki pegunungan bekas Kaldera Maninjau bertopografi miring(<20%)  hingga terjal  (>50 %), namun meningkat tajam ke a rah Timur, sangat terjal hingga  tegak (>56 %).
b.    Geologi
Berdasarkan Geologi Regional, “Peta Geologi Bersistem, Indonesia, Lembar Padang, 0715,” daerah tersebut tersusun oleh Batuan Andesit Kaldera Maninjau yang juga ditutupi oleh tuf batuapung.
Kenampakan dilapangan menunjukkan bahwa daerah tersebut merupakan daerah labil, bagian atas tersusun oleh lapukan lapili tuf pasiran, lapukan berwarna kuning kecoklatan, tidak kompak dan bersifat poros, setempat-setempat dijumpai  bongkah-bongkah andesit tertanam dalam tanah berwarna kuning kecoklatan (lapukan lapili tuf pasiran).

Tanah lapukan lapili tuf, berwarna kuning kecoklatan, bersifat poros dan mudah terurai.

III.      Kondisi Daerah Longsor
Longsor di Kampung Datar Jorong Dadok, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, terjadi pada pagi buta sekitar jam 5.30 WIB, Minggu, 27 Januari 2013, menelan korban jiwa sebanyak 20 orang dan 12 rumah rata bersama longsoran, sementara itu 9 orang diyatakan selamat. Berdasarkan pemetaan di lapangan, longsor ini telah menghancurkan dan menimbun sekurang-kurangnya 4,5 Ha lahan, setidaknya terdapat beberapa jenis tanaman masyarakat yang dilanda longsor, seperti tanaman kakao, jagung, padi sawah, dan kacang tanah.
Pengamatan pada morfologi longsor menunjukkan bahwa sebelum terjadinya longsor terlebih dahulu terjadi terban pada tanah didaerah tersebut kemudian menggelincir mengikuti bidang yang relatif melengkung di bawah permukaan tanah. Fakta  ini dibuktikan dengan tersisanya vegetasi permukaan di atas kepala (head) longsor, kemudian pada kaki lereng yang longsor terdapat gelembung tumpukan material yang menandakan bahwa sebagian material juga terhamburkan ke atas saat meluncur baru kemudian menyebar kebagian yang lebih rendah di daerah tersebut, material longsor juga menumpuk di kaki lereng di seberang lembah yang berhadapan langsung dengan longsor.
Fakta ini mengindikasikan tingginya curah hujan meningkatkan infiltrasi pada tanah yang poros dan tidak stabil, sementara itu vegetasi yang ada di lapangan tidak cukup kuat untuk menahan deformasi di bawah permukaan. Sifat tanah yang poros dan mudah terurai menjadi bubur saat tanah jenuh air sehingga dengan mudah meluncur menuruni lereng dan membawa apa saja yang ada diatasnya.
Foto Morfologi longsor Kampung Dadok, Jorong Datar, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kab. Agam.

IV.      Penyelidikan di sekitar Daerah Longsor
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan di lapangan didapatkan bahwa pada daerah lereng telah dibuat  tiga saluran irigasi memotong lereng, untuk mengairi sawah-sawah penduduk disekitar lokasi. Tanah di sekitarnya merupakan lahan terbuka berupa kebun dan sawah masyarakat. Saluran-saluran irigasi tersebut dibuat  dengan cara menggali tanah tanpa penguatan di sisi-sisi dan dasar saluran.

Saluran Irigasi beresiko, posisi pada lereng miring – terjal, tanpa perkuatan pada dasar dan dinding saluran.


Tanah dasar saluran irigasi, lunak dan mudah terurai.

Tidak adanya perkuatan  saluran, baik secara alami maupun artifsial (pembuatan tembok irigasi) akan meningkatkan infiltrasi atau resapan air ke dalam tanah. Hal ini sudah menjadi perdebatan semenjak beberapa tahun yang lalu dimana sebagian pihak mengkhawatirkan bahwa irigasi ini akan membahayakan masyarakat, perkebunan dan sawah masyarakat yang ada di bawah lereng.
Tidak dapat dipungkiri bahwa, kejadian longsor tersebut dikaitkan dengan kebaradaan saluran irigasi dan sifat tanah di lokasi.  Infiltrasi membuat lapisan tanah bagian dalam menjadi lunak dan gembur, sementara itu, tingginya intensitas hujan sebelum kejadian meningkatkan kejenuhan air dan beban lereng, juga menyebabkan air irigasi tumpah keluar saluran dan meningkatkan erosi permukaan.  “Kolaborasi” antara peningkatan kejenuhan air dalam tanah melalui infiltrasi dan erosi permukaan menyebabkan meluncurnya tanah pada lereng membawa semua yang ada diatasnya, mendorong dan menimbun rumah-rumah masyarakat dan lahan pertanian yang ada di bawahnya.
Penyelidikan yang dilakukan di daerah sekitar lokasi longsor, juga mengindikasikan tingkat kerawanan yang sama dengan lokasi longsor. Di lereng bawah saluran irigasi (TP 01) dijumpai rekahan sepanjang 3 m dengan lebar 20 cm dan dalam 20 – 30 cm, dengan arah Barat Laut – Tenggara. Rekahan ini mungkin disebabkan oleh aktifitas erosi permukaan atau pergeseran dalam skala kecil dan lokal pada titik tersebut. Pada kondisi tertentu, terutama saat curah hujan tinggi, rekahan ini dapat saja menjadi media infiltrasi yang besar dan menjadi titik awal longsor baik dalam skala besar maupun kecil.  Kondisi ini tentuah sangat mengkhawatirkan mengingat karakteristik tanah di daerah tersebut labil, poros dan berlereng terjal.

Rekahan pada tanah, lokasi pada TP 01, di bawah saluran irigasi beresiko.

Di lokasi lain, TP 02, juga dijumpai rekahan sepanjang + 10 m, lebar 50 - 100 cm, arah N 75 – 255 E (relatif Timur – Barat), diperkirakan rekahan ini telah menjadi jalan air searah lereng pada punggungan bukit. Daerah di sekitar titik ini cenderung stabil karena cukup didukung oleh vegetasi yang lebat dan pohon-pohan, namun dijumpai juga beberapa pohon agak miring sebagai indikasi adanya gerakan tanah dalam skala mikro  dan lokal.

V.        Kesimpulan dan Saran
Secara umum kondisi daerah di Jorong Data Kampung Dadok, Kecamatan Tanjung Raya termasuk zona merah, daerah rawan longsor dan gerakan tanah. Oleh karena ini perlu dilakukan penyelidikan mendetil di daerah tersebut terhadap tingkat kerawanan  longsor terutama daerah yang berdekatan langsung dengan pemukiman dan aktifitas masyarakat

Data yang ada dan kondisi terkini perlu ditindaklanjuti dan dijadikan dasar program mitigasi dan kesiapsiagaan dalam rangka perlindungan terhadap masyarakat dan upaya pengurangan risiko bencana. Saluran-saluran irigasi yang berada di atas lereng perlu diberi perkuatan untuk menahan laju infiltrasi dan mencegah longsor. Pemeliharaan vegetasi di daerah lereng sangatlah penting untuk menahan laju erosi dan perkuatan struktur tanah, sementara itu kegiatan penebangan pohon haruslah terlarang di wilayah tersebut. Peraturan dan Rencana Tata Ruang Wilayah sudah seharusnya diterapkan secara benar.

2 komentar:

Andiyansyah mengatakan...

Nice work guys...
LIKE THIS


by.
Andiyansyah Zulfikar
Student of Disaster Management Policy
National Graduate Institute for Policy Study (GRIPS) in Tokyo - Japan

BPBD Sumbar mengatakan...

Thanks bos